Breaking News:

Tak Hanya Korban, Bullying Berdampak Buruk pada Mereka yang Jadi Saksi

Di luar korban, ternyata mereka yang tidak terlibat secara langsung dan hanya menjadi saksi dari praktek bullying juga dapat berpotensi ikut merasakan

Editor: Tinwarotul Fatonah
Fioregroup.org
Ilustrasi 

TRIBUNWOW.COM - Seorang psikolog, Retha Arjadi, mengungkapkan dampak bullying pada mereka yang jadi saksi.

Ia selama ini fokus pada penanganan kasus depresi serta keluhan psikologis lain yang terkait dengan isu kekerasan, bullying, dan konflik dalam relasi interpersonal.

Secara umum, bullying (atau dalam bahasa Indonesia “perundungan”) dapat didefinisikan sebagai tindakan agresif, menyakiti, mengontrol, atau memaksa yang dilakukan secara berulang oleh satu pihak kepada pihak lainnya.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari yang jelas terlihat, seperti memukul atau menghina dengan kata-kata, hingga yang sulit untuk dikenali, seperti mengerjai secara diam-diam, menjauhi dalam pergaulan, menatap sinis, menyindir-nyindir baik secara langsung maupun via media sosial, dan lain sebagainya.

Terungkap! Pelaku Pembakar Zoya Hidup-hidup, Lihat Tugasnya yang Bikin Geram!

Walau tidak terbatas terjadi pada usia kanak-kanak dan remaja, kasus bullying banyak dilaporkan muncul pada populasi tersebut di lingkungan sekolah.

Bullying jelas berdampak buruk pada korban, dan oleh karenanya penanganan terhadap korban bullying dianggap sangat penting dan telah dilakukan oleh banyak pihak yang peduli pada isu ini, termasuk para profesional di bidang kesehatan mental.

Di sisi lain, untuk pelaku bullying, telah banyak upaya yang dilakukan untuk menjangkau dan mengedukasi mereka agar tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Di luar korban, ternyata mereka yang tidak terlibat secara langsung dan hanya menjadi saksi dari praktek bullying juga dapat berpotensi ikut merasakan dampaknya.

7 Artis Wanita Indonesia & Korea ini Seumuran, Tapi Kamu Bakal Kaget Lihat Beda Penampilannya!

Sebagai pengamat, mereka dapat mengalami kekhawatiran bahwa mereka akan ikut menjadi korban.

Di satu sisi, mereka tidak ingin ikut-ikutan menjadi pelaku, dan di sisi lain, mereka berusaha menghindari kemungkinan menjadi korban, sehingga seringkali menjadi bingung menempatkan diri di tengah-tengah praktek bullying yang mereka saksikan secara berulang-ulang.

Kondisi ini membuat para saksi bullying menjadi berpotensi mengalami dampak negatif secara tidak langsung, misalnya mereka dapat menjadi mudah cemas, cenderung murung, kurang percaya diri, dan lebih menarik diri dari pergaulan.

Orangtua atau guru mungkin menangkap perubahan mereka dan menjadi bingung karena misalnya tahu pasti bahwa mereka bukanlah korban bullying.

Ketika hal tersebut terdeteksi, maka perlu dilakukan pendekatan kepada para saksi bullying tersebut mengenai seperti apa praktek bullying yang mereka lihat selama ini, sudah berapa lama itu mereka saksikan, dan apa pengaruhnya terhadap kondisi psikologis mereka.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Tags:
BullyingRetha ArjadiPsikologis
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved