Penyerangan di Mapolda Sumut
'Rupanya, Itulah Kata-kata Terakhirnya yang Menandakan Kami Akan Berpisah Selamanya'
Sosoknya tampak kuyu, lemah dan lesu, kedua kelopak matanya membengkak bukti tangisan kepedihan yang masih membekas.
Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Rimawan Prasetiyo
Tak hanya itu, sang suami menyuruhnya agar membeli baju baru.
Dari situlah ia mulai bertanya-tanya pada diri sendiri terkait perubahan sikap sang suami.
Selepas kejadian itu, ia pun kembali ke kampung halaman.
Kegelisahan pun mulai dirasakan Mianna sepanjang hari.
Firasat-firasat sebelum Aiptu Martua Sigalingging Tewas dalam Penyerangan Mapolda Sumut
Hingga pada malam kejadian pun, ia mengaku tidak bisa tidur hingga pagi menjelang.
"Dung na mulak sian Medan i, nga asing panghilalaanhu. Nabodari pe dang boi modom be ahu. (Sejak pulang dari Medan aku sudah gelisah. Bahkan, tadi malam pun enggak bisa lagi aku tidur)," ujarnya.
Diketahui Aiptu Martua sudah 1,5 tahun bertugas di Polda Sumut.
Sebelumnya, mendiang sempat mengabdi di Tapanuli Selatan (Tapsel). Namun, sejak 2015 ia pindah tugas.
Sementara, Mega Cristin Sigalingging, sang putri juga menceritakan firasat kepergian sang ayahnya.
Selama dua hari, tepatnya 22-23 Juni 2017, ia mendapatkan omelan dari ayahnya.
Ia sempat berjanji untuk menelepon sang ayah, namun karena tertunda, ayahnya merajuk. Sejak itu pun, ia merasa rindu berat kepada ayahnya.
"Bapak bilang gini. Kek mananya perasaanmu boru, kalau kau ditelepon-telepon enggak ku angkat. Bapak merajuk samaku, katanya. Enggak biasanya gitu, mulai saat itu aku rindu kali sama bapak. Sampai akhirnya kami teleponan tadi malam dan Instagramku dikomennya sejam sebelum dia ninggal," ungkapnya.
Ayahnya juga berjanji akan membawa mereka ke rumah ompungnya (kakek dan nenek) usai tugas piket Lebaran.
Ia terakhir bertemu ayahnya pada awal Mei, sebelum pergi ke Medan menjalankan tugas.
(TribunWow.com/Natalia Bulan Retno Palupi)