Penyerangan di Mapolda Sumut
'Rupanya, Itulah Kata-kata Terakhirnya yang Menandakan Kami Akan Berpisah Selamanya'
Sosoknya tampak kuyu, lemah dan lesu, kedua kelopak matanya membengkak bukti tangisan kepedihan yang masih membekas.
Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Rimawan Prasetiyo
Mianna kembali menceritakan, bahwa dirinya mengetahui sang suami meninggal sekitar pukul 07.00 Minggu pagi.
Kabar duka itu ia peroleh dari keluarganya yang bermarga Simbolon, tinggal di desa yang tak jauh dari rumahnya.
Satu Polisi Tewas Digorok, Ini Poin-poin Lengkap Peristiwa Penyerangan di Polda Sumut
Simbolon mendatanginya dan memberikan kabar dukacita tersebut.
"Keluarga do ro paboahon nassogot. Ai unang jo tangis ho, adong teroris di Polda, i pamate polisi. Hubege marga Sigalingging," katanya. (Keluarga yang datang ke sini pagi tadi. Katanya ada marga Sigalingging dibunuh teroris di Polda Sumut)," katanya menirukan ucapan Simbolon.
Setelah mengecek kebenaran kabar duka tersebut tidak meleset.
Mianna meyakini, apalagi menyadari suaminya memang sedang piket malam takbiran, menjelang Idul Fitri 1438 Hijriah.
Terlihat, anaknya bernama Joel, tiba-tiba keluar dari kamar tidur, terbangun saat jam menunjukkan pukul 02.35 dini hari.
"Enggak bisa aku tidur mak," ucap si anak.
Firasat-firasat lain pun juga sempat dirasakan Mianna dan putrinya, Mega Cristin Sigalingging.
Usai Menggorok Seorang Polisi Dua Terduga Teroris Berencana Membakar Pos Jaga
Kembali melansir dari Warta Kota , keduanya mengaku beberapa hari terakhir telah dihinggapi dengan firasat buruk.

"Memang beberapa hari terakhir kami masing-masing sudah dalam keadaan gelisah. Hingga akhirnya tahu apa artinya," kata Mianna.
Firasat itu muncul saat ia pergi menemui Aiptu Martua di rumah kontrakannya di Medan, arah Tanjung Morawa, Selasa (20/6/2017) silam.
Tidak seperti biasanya, tiba-tiba Aiptu Martua meminta agar seluruh bajunya disetrika kemudian ditata serapi mungkin.