Breaking News:

Mahasiswa STIKOM Surabaya Ciptakan Tongkat Canggih untuk Tuna Netra, Ada 2 Sensor Ultrasonik

Mahasiswa jurusan Sistem Komputer, Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya M Nur Bimantoro, menciptakan tongkat bantu jalan untuk tuna netra

Tayang:
Editor: Yudie
Surya.co.id
Mahasiswa jurusan Sistem Komputer, Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya M Nur Bimantoro, menciptakan tongkat bantu jalan untuk tuna netra 

Laporan Wartawan Surya.co.id, Sulvi Sofiana

TRIBUNWOW.COM, SURABAYA - Mahasiswa jurusan Sistem Komputer, Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya M Nur Bimantoro, menciptakan tongkat bantu jalan untuk tuna netra.

Bukan sembarang tongkat, tongkat yang diciptakan Nur Bimantoro dilengkapi dengan teknologi khusus tongkat pintar berbasis mikrokontroler.

Teknologi ini dapat memberikan kemampuan lebih dibandingkan tongkat bantu jalan pada umumnya.

Baca: Mengejutkan! NASA Temukan Planet Ini sebagai Pengganti Bumi, Mau Pindah?

Nur Bimantoro menjelaskan pada umumnya warga tuna netra menggunakan tongkat khusus berwarna putih dengan garis merah horizontal di bagian bawah untuk membantu berjalan.

"Akan tetapi dengan tongkat ini ruang gerak tuna netra masih sangat terbatas dan tidak leluasa karena untuk mengetahui adanya benda harus dengan cara mengetuk-ngetukkan tongkat di sekitar pijakan,” kata Nur Bimantoro, Kamis (2/3/2017).

Mahasiswa yang nyambi bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya ini menyebutkan, sebelum menciptakan tongkat tersebut, dia banyak mengamati para tuna netra.

Selain itu, dia juga melihat bahwa tongkat yang dilengkapi dengan berbagai teknologi sensor ultrasonik seperti yang saat ini ada di pasaran, masih berharga mahal.

Tak hanya mahal, tongkat semacam itu juga masih mengandung kelemahan.

Karena hanya memiliki satu sensor, tongkat itu kurang efektif dipakai ketika penggunanya berjalan di atas permukaan yang terdapat lubang dan bebatuan.

“Dari sini muncul ide membuat tongkat pintar berbasis mikrokontroler. Tongkat ini menggunakan dua sensor ultrasonik,” rincinya.

Dia menjelaskan, sensor bagian atas berfungsi untuk mendeteksi benda seperti tembok rumah, pintu, pagar, tiang atau benda lainnya.

Sedang sensor bagian bawah berfungsi untuk mendeteksi permukaan yang tidak rata seperti batu ataupun lubang disekitar pengguna.

“Tongkat ini dilengkapi dengan alarm sebagai tanda peringatan untuk berjalan menghindari benda-benda tersebut sehingga ruang gerak tunanetra lebih luas dan memudahkan mereka untuk melakukan segala aktivitasnya,” jelasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Tags:
STIKOM SurabayaKota SurabayaSMPLB Anak Buta
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved