Terkini Nasional
Semangat Lukman Busra: Penjual Bakso Bakar di Dibal Boyolali yang Sukses Pergi Haji di Usia Muda
Kisah perjuangan tukang bakso bakar yang berhasil berangkat haji dengan tekad dan ikhtiarnya.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
Baik dari segi fasilitas maupun sampai dengan pelayanan administrasinya.
"Untuk fasilitas baik, untuk pelaksanaan ibadah haji Indonesia itu sudah baik jadi ya tinggal dilaksanakan dengan baik dan pelayanannya juga sudah bagus," bebernya.
Lebih lanjut, Lukman menceritakan, perjuangan beratnya menunaikan rukun dan syarat haji di tanah suci.
Paling terasa yakni cuaca ekstrem yang mencapai 50 sampai dengan 53 derajat.
"Cerita yang paling luar biasa itu pas pelaksanaan haji namanya Armuzna, pas puncaknya haji, ketika itu saya bersama satu rombongan haji melaksanakan ibadah haji dengan jalan kaki, jadi tidak ikut dalam rombongan bis, pada waktu itu di Arafah itu suhunya mencapai 50 derajat sampai dengan 53 derajat dan waktu itu hanya di tenda biasa seperti haji backpacker tapi kita resmi."
"Kita ikut jalan kaki karena secara fisik ya masih mampu untuk berjalan kaki. Saat itu, keadaannya memang sangat berat dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun Alhamdulilah, atas pertolongan dari Allah, kami akhirnya kuat untuk berjalan dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina," ungkap Lukman.
Tak cuma itu, Lukman juga memiliki pengalaman mengesankan saat melakukan proses lempar jumrah dan ibadah di Masjidil Haram.
"Lempar jumrah itu juga sangat berkesan dan jadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan, karena saat itu ikut berjalan kaki serentak dengan semua umat Islam di dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Begitu juga ketika ibadah di Masjidil Haram, bertemu dengan banyak orang luar," lanjutnya.
Rupanya, ada satu alasan di balik keinginan Lukman untuk berjalan kaki dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina ketimbang turut serta naik bis.
Lukman dkk saat itu memutuskan untuk berjalan kaki agar bisa mengenang tapak tilas perjuangan para nabi.
Padahal, secara jarak tempuh, Lukman dan rekan-rekannya harus berjalan sejauh 30 km atau harus menempuh waktu 2 hari lamanya mulai dari tanggal 8 sampai dengan malam ke-9 Arafah.
"Alasannya jalan kaki karena kita ingin mengikuti tapak tilas nabi, itu bisa dilakukan cuma dengan berjalan kaki, kalau pakai bus sudah berbeda rutenya, jarak tempuhnya antara 30 km dan dikerjakan selama 2 hari, dari tanggal 8 sampai malam ke 9 Arafah, dan tanggal 9 Arafah itu sudah harus disana, jadi setelah itu terus berjalan ke Musdalifah lalu berjalan ke Mina lagi," ucapnya.
Lebih lanjut, Lukman juga turut memberikan saran dan pesan kepada para pelaku UMKM sepertinya dan juga para generasi muda agar berani mengambil keputusan menjalani ibadah haji sesegera mungkin.
"Kesabaran terutama masalah ekonomi, saya kan berjualan tidak pasti, terkadang ramai terkadang sepi, kalau ramai kita menyisihkan uang agak banyak, kalau sepi ya sedikit kita menyisihkan dan kita syukuri. Serta jangan lupa berdoa, kalau untuk kebutuhan yang lain yang tidak mendesak kita tunda dulu."
"Untuk pesannya, semua umat islam terutama untuk generasi muda yang masih produktif, untuk melaksanakan haji, segera untuk mendaftar dan jangan menunggu kaya, intinya kalau ingin ibadah haji ya jangan menunggu kaya, karena kalau sudah tua ibadah haji itu berat sekali, karena sayang sekali jika kita ibadah haji lalu jika kurang maksimal bakal jadi kerugian bagi kita sendiri," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/Lukman-2.jpg)