Konflik Iran Vs Israel

Menilik Perbandingan Kekuatan Militer Iran Vs Israel, Pihak Mana yang Lebih Unggul?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sebuah foto yang dirilis militer Iran pada Selasa, 3 Oktober 2023 menunjukkan peluncuran drone bunuh diri Iran selama latihan drone nasional oleh Angkatan Udara Iran yang dipusatkan di Provinsi Semnan utara, Iran.

Keunggulan teknologi

Data IISS menunjukkan bahwa Israel memiliki 340 pesawat militer yang siap tempur.

Fakta ini memberikan Israel keunggulan dalam bidang serangan udara yang tepat sasaran.

Di antara jet-jet tersebut adalah pesawat F-15 dengan jangkauan serangan jarak jauh, F-35 – pesawat "siluman" berteknologi tinggi yang dapat menghindari radar – dan helikopter serang cepat.

IISS memperkirakan, Iran memiliki sekitar 320 pesawat tempur.

Jet-jet tersebut berasal dari 1960-an dan termasuk F-4, F-5, dan F-14 (yang terakhir adalah pesawat yang terkenal dalam film Top Gun tahun 1986).

Namun, Nicholas Marsh dari PRIO mengatakan bahwa tidak jelas seberapa banyak dari pesawat-pesawat tua ini yang benar-benar bisa terbang.

Sanksi Barat terhadap Iran menyulitkan mereka mengimpor suku cadang untuk memperbaiki pesawat-pesawat ini.

Baca juga: Israel Pecah, Netanyahu dan Yoav Gallant Saling Serang, Kemenangan atas Hamas Disebut Omong Kosong

Iron Dome dan Arrow

Potret Iron Dome milik Israel menangkal serangan misil dari Jalur Gaza, 14 Mei 2021. (Anas Baba/AFP)

Tulang punggung pertahanan Israel adalah sistem Iron Dome dan Arrow mereka.

Insinyur rudal Uzi Rubin merupakan pendiri Organisasi Pertahanan Rudal Israel di Kementerian Pertahanan negara itu.

Rubin kini menjadi peneliti senior di Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem.

 Kepada BBC, dia mengaku merasa “aman” ketika menyaksikan Iron Dome dan sekutu internasional menghancurkan hampir semua rudal dan pesawat tak berawak yang ditembakkan Iran ke Israel pada Sabtu (3/8/2024).

"Saya merasa sangat puas dan senang... Sistem ini sangat spesifik terhadap target-targetnya. Ini adalah pertahanan rudal jarak pendek. Tidak ada yang serupa dengannya (di sistem) yang lain."

Seberapa jauh Iran dari Israel?

Israel berjarak lebih dari 2.100 kilometer dari Iran. Editor Defence Eye, Tim Ripley, menyebut rudal-rudal adalah cara utama untuk menyerang negara itu.

Program rudal Iran dianggap sebagai yang terbesar dan paling bervariasi di Timur Tengah.

Pada 2022, Jenderal Kenneth McKenzie dari Komando Pusat AS mengatakan bahwa Iran memiliki "lebih dari 3.000" rudal balistik.

Menurut Proyek Pertahanan Rudal CSIS, Israel juga mengekspor rudal ke beberapa negara.

Rudal dan drone tempur Iran

Iran melakukan pengembangan ekstensif pada sistem rudal dan drone tempur sejak perang dengan negara tetangganya, Irak, dari tahun 1980 hingga 1988.

Iran mengembangkan rudal dan drone tempur jarak pendek dan jarak jauh yang banyak di antaranya baru-baru ini ditembakkan ke Israel.

Para analis yang mempelajari rudal yang ditargetkan ke Arab Saudi oleh pemberontak Houthi menyimpulkan bahwa rudal tersebut diproduksi di Iran.

Serangan Jarak Jauh

Sistem Rudal A S-300V milik Rusia. Iran memiliki S-300 buatan Rusia. (Vitaly V. Kuzmin (CC BY-SA 4.0))

Tim Ripley dari Defence Eye menyebut, Israel sangat tidak mungkin terlibat dalam perang darat dengan Iran.

“Keuntungan besar Israel adalah kekuatan udaranya dan senjata-senjata berpemandu. Jadi, Israel memiliki potensi untuk melancarkan serangan udara terhadap target-target utama di Iran,” ujarnya.

Menurut Ripley, Israel kemungkinan besar akan membunuh para pejabat Iran dan menghancurkan instalasi minyak dari udara.

“‘Hukuman’ adalah inti dari semua ini... Para pemimpin militer dan politik Israel selalu menggunakan kata itu."

"Itu adalah bagian dari filosofi mereka, bahwa mereka harus menimbulkan rasa sakit untuk membuat lawan-lawan mereka berpikir dua kali untuk menentang Israel,” ujarnya,

Tokoh-tokoh militer dan sipil Iran yang terkenal telah terbunuh dalam serangan udara, termasuk dalam penghancuran gedung konsulat Iran di ibu kota Suriah pada 1 April.

Serangan itu memicu serangan balik Iran.

Namun, Israel belum mengaku bertanggung jawab atas hal tersebut. Begitu pula dengan sejumlah serangan lain yang menargetkan pejabat-pejabat terkemuka Iran.

Di sisi lain, mereka juga tidak membantah bahwa mereka telah bertanggung jawab.
Angkatan Laut

Menurut laporan IISS, Angkatan Laut Iran yang sudah menua memiliki sekitar 220 kapal, sementara Israel memiliki sekitar 60 kapal.

Para analis mengatakan, angkatan laut Iran tidak mampu bertempur dalam perang.

Serangan siber

Israel akan mengalami lebih banyak kerugian dibandingkan Iran dalam serangan siber.

Sistem pertahanan Israel kurang maju secara teknologi dibandingkan Iran. Artinya, serangan elektronik terhadap militer Israel dapat berdampak jauh lebih besar.

Direktorat Siber Nasional pemerintah Israel menyatakan, “Intensitas serangan siber lebih tinggi dari sebelumnya”.

“Setidaknya tiga kali lebih tinggi, dan dengan serangan di setiap sektor Israel. Kerja sama antara Iran dan Hezbollah (organisasi militan dan politik Lebanon) meningkat selama perang,” sebut mereka.

Laporan tersebut melaporkan ada 3.380 serangan siber antara serangan 7 Oktober dan akhir 2023.

Kepala Organisasi Pertahanan Sipil Iran, Brigadir Jenderal Gholamreza Jalali, mengatakan bahwa Iran menggagalkan hampir 200 serangan siber pada bulan menjelang pemilihan parlemen baru-baru ini.

Pada bulan Desember, Menteri Perminyakan Iran, Javad Owji, mengatakan bahwa serangan siber menyebabkan gangguan nasional pada SPBU-SPBU nasional.

Baca juga: Iran akan Beri Hukuman Keras ke Israel Buntut Tewasnya Haniyeh, IRGC: Segera Dilakukan

Ancaman Nuklir

Israel diasumsikan memiliki senjata nuklirnya sendiri.

Namun, Israel sengaja mempertahankan kebijakan resmi supaya kemampuan nuklir mereka dibuat ambigu.

Iran dianggap tidak memiliki senjata nuklir.

Meskipun ada tuduhan sebaliknya, Iran menyangkal telah berusaha menggunakan program nuklir sipilnya untuk menjadi negara bersenjata nuklir.

Geografi dan Demografi

Iran adalah negara yang jauh lebih besar dibandingkan Israel.

Populasi Iran (hampir 89 juta) sembilan kali lipat lebih besar dari Israel (hampir 10 juta).

Iran juga memiliki jumlah tentara aktif sekitar enam kali lipat lebih banyak dari Israel.

Menurut IISS, terdapat 600.000 tentara aktif di Iran, sementara Israel memiliki 170.000 tentara.

Bagaimana Israel bisa membalas?

Dr Eric Rondsky, peneliti Timur Tengah yang berafiliasi dengan Universitas Tel Aviv, mengatakan Israel bertanggung jawab atas kegagalan tersebut dengan menyatakan keadaan siaga tinggi ketika Iran menyerang.

Militan yang didukung Iran di negara-negara tetangga secara teratur melancarkan serangan terhadap target-target yang merupakan kepentingan Israel.

Jeremy Binnie, pakar pertahanan Timur Tengah di Janes, percaya bahwa Israel tidak mungkin membalas dengan segera.

“Secara potensial, mereka memiliki sejumlah pilihan jika mereka ingin membalas, seperti mengebom situs-situs di Lebanon atau Suriah.”

Binnie meragukan akan ada perang skala besar konvensional.

“Tentara tidak akan berperang, angkatan laut tidak akan berperang, mereka (Iran dan Israel) berada jauh dari satu sama lain.

“Kami melihat situasi di mana kedua belah pihak memiliki kemampuan serangan jarak jauh versus pertahanan udara pihak lain. Kami melihat satu sisi dari hal itu dengan kemampuan serangan jarak jauh Iran versus pertahanan Israel pada Sabtu (3/8/2024) dan Minggu (4/8/2024)."

Dia mengatakan bahwa Israel harus melanggar wilayah udara negara-negara berdaulat seperti Suriah, Yordania dan Iran—apabila eskalasi perang terjadi.

Namun, Israel memiliki dinas rahasia yang berpengalaman yang dapat melakukan operasi klandestin alias diam-diam di dalam wilayah Iran.

"Kartu Iran"

Pakar Timur Tengah Tariq Sulaiman mengatakan kepada BBC Urdu bahwa sejumlah anggota parlemen dan kabinet Israel adalah pro-perang dan menginginkan perang terjadi.

Hal ini memberikan tekanan pada perdana menteri Israel untuk bertindak.

"Setiap kali Netanyahu mendapati dirinya rentan secara politik, dia segera menggunakan kartu Iran," ujarnya.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Universitas Ibrani Israel pada April menemukan bahwa hampir tiga perempat dari publik Israel menentang serangan balasan terhadap Iran apabila tindakan seperti itu akan membahayakan aliansi keamanan Israel dengan para sekutunya.

Sebuah pernyataan dari universitas mengatakan bahwa survei tersebut dilakukan pada 14 dan 15 April melalui internet dan telepon, dan mengambil sampel dari 1.466 pria dan wanita yang mewakili warga Israel dewasa, baik Yahudi maupun Arab.

Apa yang dimaksud dengan "perang proksi" Israel dan Iran?

Meskipun Israel dan Iran belum pernah berperang secara resmi hingga saat ini, kedua negara telah terlibat dalam konflik tidak resmi.

 Tokoh-tokoh penting Iran di negara-negara lain terbunuh dalam serangan yang secara luas dituduhkan kepada Israel, termasuk di Iran sendiri.

Adapun Iran menargetkan Israel melalui proksi-proksi mereka.

Kelompok militan dan politik Hezbollah berperang dalam perang proksi terbesar Iran melawan Israel dari Lebanon. 

Iran tidak menyangkal telah mendukung Hezbollah.

Dukungannya untuk Hamas di Gaza juga serupa. Hamas melancarkan serangan 7 Oktober ke Israel, dan telah menembakkan roket dari Jalur Gaza ke wilayah Israel selama beberapa dekade.

Israel dan negara-negara Barat meyakini Iran menyediakan senjata, amunisi, dan pelatihan untuk Hamas.

Houthi di Yaman secara luas dipandang sebagai proksi Iran.

 Arab Saudi mengatakan bahwa rudal-rudal Houthi yang ditembakkan ke arahnya dibuat di Iran.

Kelompok-kelompok yang didukung Iran juga memiliki kekuatan yang cukup besar di Irak dan Suriah.

Iran mendukung pemerintah Suriah dan disebut-sebut menggunakan wilayah Suriah untuk menyerang Israel. (*)

Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul Seberapa besar kekuatan militer Iran jika dibandingkan dengan Israel?