TRIBUNWOW.COM - Pasukan militer Israel terus mengintensifkan serangan terhadap Gaza, Palestina.
Serangan itu menjadi yang terburuk setelah Israel mendapat serangan balasan dari Hamas.
Hamas menyerang secara besar-besaran di Israel pada Sabtu 7 Oktober 2023 bertepatan dengan Hari Sabat Yahudi.
Baca juga: Mesir Ternyata Sempat Peringatkan Israel soal Serangan Hamas, sejak Tiga Hari Sebelumnya Sudah Tahu
Dikutip TribunWow.com dari Arabnews, perang kali ini menimbulkan kekhawatiran yang lebih luas bagi negara di Timur Tengah.
Para ahli mengatakan Iran dan Korps Garda Revolusi Islamnya telah menghabiskan dana untuk mempersenjatai militan Syiah serta kelompok Sunni Palestina.
Akibatnya, Israel akan menghadapi kemungkinan perang tiga atau empat front termasuk Hamas dan Jihad Palestina di Gaza.
Belum adanya pasukan Hizbullah dan PIJ di Lebanon dan Suriah.
Baca juga: Mengenal Hizbullah, Militan dari Lebanon yang Ikut Terlibat dalam Perang Hamas Lawan Israel
Hizbullah Lebanon telah melepaskan tembakan pertama ke arah Israel dengan meluncurkan roket pada hari Minggu, yang memicu pembalasan mematikan oleh Israel.
Baku tembak artileri di seberang perbatasan pada hari Senin menewaskan tiga pejuang Hizbullah, dua militan Palestina, dan seorang perwira senior militer Israel.
Pentagon Amerika Serikat mengingatkan Hizbullah untuk berpikir dua kali sebelum membuka front kedua perang tersebut.
Lantaran Israel mendapat bantuan dari AS dan telah diberikan sejumlah peralatan tempur.
Baca juga: Hamas dan Israel Berkonflik, Paus Fransiskus yang Sakit, Khawatirkan Warga di Gaza yang Dikepung
AS diketahui mengirim kelompok penyerang, kapal induk dan skuadron angkatan udara di wilayah itu.
Dalam kasus Lebanon, para analis yakin baik Hizbullah maupun Israel tidak ingin terjebak dalam perang regional yang besar karena berbagai alasan.
“Saya pikir kedua belah pihak bersedia menerima sejumlah kekerasan dan korban jiwa," kata Michael Young, editor senior di Carnegie Middle East di Beirut.
Kedua belah pihak pada dasarnya tidak ingin hal ini meningkat menjadi perang yang lebih luas."
“Apa yang kita lihat sejauh ini membuktikan apa yang saya pikirkan. Hizbullah menerima korban jiwa, dan Israel menerima kenyataan bahwa dua pangkalan militer mereka ditembaki."
“Tentu saja ini tetap merupakan permainan yang berisiko. Kapan saja, hal itu bisa lepas kendali.”
Diketahui, perang terakhir Hizbullah dan Israel terjadi pada 2006 silam.
Perang itu berakhir dengan pemahamasn bahwa kekerasan di masa depan akan terbatas pada wilayah kecil yang disengketakan di dekat Daratan Tinggi Golan.
Baca juga: Hacker Rusia Klaim Telah Bantu Hamas untuk Serang Israel, Target Selanjutnya Buat Pemerintah Was-was
Iran dan kelompok Syiahnya di Lebanon, Irak, dan Yaman merupakan anggota Poros Perlawanan dan sangat mendukung serangan hari Sabtu yang mengakibatkan pangkalan militer Israel dan beberapa desa serta kota dikuasai oleh militan Hamas.
Presiden Iran Ebrahim Raisi mengadakan panggilan telepon dengan para pemimpin Hamas dan PIJ setelah serangan dimulai, kantor berita Iran IRNA melaporkan pada hari Minggu.
Hamas sendiri juga telah memanggil kelompok militan sekutu Iran dan Lebanon serta Suriah, Irak untuk bergabung dalam serangan lawan Israel.
Kelompok bersenjata Irak dan Yaman yang bersekutu dengan Iran mengancam akan menargetkan kepentingan AS dengan rudal dan drone.
Hal ini akan mereka lakukan jika Presiden AS Joe BIden turun tangan dukung Israel.
Tentu saja, serangan mematikan Hamas telah memupus harapan akan era perdamaian.
Serangan itu juga menimbulkan kekhawatiran bahwa situasi bisa menjadi tidak terkendali, dan meningkatkan momok konflik yang menghancurkan negara-negara yang perekonomiannya sudah berada dalam kondisi genting. (TribunWow.com/ Tiffany Marantika)