“Apa yang kita lihat sejauh ini membuktikan apa yang saya pikirkan. Hizbullah menerima korban jiwa, dan Israel menerima kenyataan bahwa dua pangkalan militer mereka ditembaki."
“Tentu saja ini tetap merupakan permainan yang berisiko. Kapan saja, hal itu bisa lepas kendali.”
Diketahui, perang terakhir Hizbullah dan Israel terjadi pada 2006 silam.
Perang itu berakhir dengan pemahamasn bahwa kekerasan di masa depan akan terbatas pada wilayah kecil yang disengketakan di dekat Daratan Tinggi Golan.
Baca juga: Hacker Rusia Klaim Telah Bantu Hamas untuk Serang Israel, Target Selanjutnya Buat Pemerintah Was-was
Iran dan kelompok Syiahnya di Lebanon, Irak, dan Yaman merupakan anggota Poros Perlawanan dan sangat mendukung serangan hari Sabtu yang mengakibatkan pangkalan militer Israel dan beberapa desa serta kota dikuasai oleh militan Hamas.
Presiden Iran Ebrahim Raisi mengadakan panggilan telepon dengan para pemimpin Hamas dan PIJ setelah serangan dimulai, kantor berita Iran IRNA melaporkan pada hari Minggu.
Hamas sendiri juga telah memanggil kelompok militan sekutu Iran dan Lebanon serta Suriah, Irak untuk bergabung dalam serangan lawan Israel.
Kelompok bersenjata Irak dan Yaman yang bersekutu dengan Iran mengancam akan menargetkan kepentingan AS dengan rudal dan drone.
Hal ini akan mereka lakukan jika Presiden AS Joe BIden turun tangan dukung Israel.
Tentu saja, serangan mematikan Hamas telah memupus harapan akan era perdamaian.
Serangan itu juga menimbulkan kekhawatiran bahwa situasi bisa menjadi tidak terkendali, dan meningkatkan momok konflik yang menghancurkan negara-negara yang perekonomiannya sudah berada dalam kondisi genting. (TribunWow.com/ Tiffany Marantika)