Tetapi, Jokowi tetap menjadikan Prabowo sebagai partner hingga menjabat Menteri Pertahanan sampai sekarang.
"Adakalanya berkompetisi, adakalanya bersaing, tapi setelah Pemilu usai maka saling berangkulan."
"Semacam istilah politik yang pernah dipraktikkan Jokowi pada 2019 lalu, di mana menjadikan Prabowo Subianto yang menjadi rival 2 (dua) kali di Pilpres, menjadi partner bahkan menjadi Menteri Pertahanan," jelasnya.
Baca juga: Prabowo Serasa Jokowi, 36,4 Persen Pemilihnya Pilih sang Menhan, Ganjar Pranowo Semakin Gigit Jari?
"Ini kan pesan politik kebangsaan, karena secara prinsip, elite-elite politik kita, baik di partai ataupun yang berkompetisi satu sama lain adalah kenal baik dan bahkan menjadi teman lama," sambung Adi.
Adi meminta agar politik dapat dimaknai biasa-biasa saja, jangan memaknainya seperti perang agama hingga seakan-akan berebut surga dan neraka.
Ia menegaskan di Indonesia, politik yang berlaku adalah politik perkawanan.
"Politik kebangsaan inilah yang sebenarnya, bahwa maknai politik itu biasa-biasa saja, jangan makai politik itu seperti perang agama, perang antar suku, dan seakan-akan berebut surga dan neraka," urainya.
"Poltik kita itu adalah politik perkawanan, hari ini berteman, besok bisa jadi lawan. Hari ini lawan, besok menjadi sahabat," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Rifqah)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pesan Jokowi Jelang Pemilu 2024, Sebut Situasi Makin Panas, Minta yang Kalah Tak Ganggu yang Menang