Sekali lagi Suwadi berpesan agar video tersebut tidak menjadi masalah bagi semua orang.
"Kami hanya ingin semua baik-baik saja," ujarnya.
Baca juga: Reaksi Ganjar Pranowo saat Elektabilitasnya Disalip Prabowo: Sudah Rebound, Sebentar Lagi Menang
4. Cerita Relawan
Sementara relawan Ardian Kurniawan Santoso mengatakan telah berkunjung ke SLB tempat Firmansyah bersekolah.
"Dari penyampaian sekolah, memang Firman sudah nyaman. Memang dia termasuk siswa inklusi," ungkapnya.
Ardian juga menyampaikan pembuat video telah melakukan klarifikasi terkait postingan tersebut.
"Jadi masalah video viral tersebut sudah clear dan selesai dengan baik," kata dia.
Dalam kesempatan tersebut Ardian juga menghadiahkan sepeda untuk Firmansyah.
"Semangatnya untuk belajar sangat menggebu, semoga dengan hadiah ini dia terus semangat belajar dan mengaji," paparnya.
5. Kata Disdikbudpora Semarang: Tidak Ada Bully
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang Jawa Tengah Sukaton Purtomo Priyatmo mengatakan, tidak ada bullying terhadap Firmansyah.
"Jadi memang dia pindah sekolah ke SLB sudah empat tahun, sejak kelas dua (sebelumnya disampaikan kejadian berlangsung dua tahun lalu)," paparnya.
Saat di SD negeri, Firman masuk tahun ajaran 2018/2019 dengan usia delapan tahun.
"Dia ternyata sulit adaptasi dan sulit menerima materi pelajaran, bahkan selama kelas satu tidak bisa menulis dan membaca. Karena kondisi tersebut, gurunya tidak memberi nilai terhadap siswa tersebut," ungkapnya.
"Karena tidak punya nilai, siswa pun tinggal kelas. Hingga memasuki tahun berikutnya, diketahui siswa masuk kategori inklusi dan orangtua diberi tahu kondisinya. Lalu diberi pemahaman, tetap sekolah negeri atau pindah ke SLB," kata Sukaton.