Konflik Rusia Vs Ukraina

Tahanan Politik Putin Sarankan Inggris Tampung Warga Rusia yang Kabur, Ini Alasannya

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Potret warga Rusia berbondong-bondong kabur ke Georgia.

TRIBUNWOW.COM - Selama konflik di Ukraina berlangsung, sudah ada banyak warga Rusia yang kabur dari Tanah Air mereka.

Jumlah warga Rusia yang kabur semakin banyak setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi militer meskipun kini telah disetop.

Dikutip TribunWow dari Theguardian, menanggapi fenomena ini, tahanan politik Putin Mikhail Khodorkovsky menyarankan Inggris untuk menampung warga Rusia yang kabur.

Baca juga: Putin Diyakini akan Manfaatkan Musim Dingin untuk Lakukan Genosida Warga Ukraina

Khodorkovsky mengklaim ada sekira 700 ribu warga Rusia yang kabur setelah Putin mengumumkan mobilisasi.

Pria yang terkenal mengkritisi Putin ini menjelaskan bahwa kaburnya ratusan ribu warga Rusia itu memiliki dampak besar terhadap menurunnya produktivitas industri pertahanan Rusia serta perekonomian Rusia.

Bahkan Khodorkovsky menyebut dampak kaburnya ratusan ribu warga Rusia tersebut memiliki pengaruh yang lebih besar ketimbang sanksi ekonomi.

Menurut penejelasan Khodorkovsky, warga Rusia yang kabur berasal dari kalangan terdidik dan produktif.

Baca juga: Bos Tentara Bayaran Rusia Grup Wagner Miliki Kuasa Setingkat Menteri hingga Mampu Pengaruhi Putin

Mereka juga memiliki kekayaan yang tidak sedikit.

"Termasuk 30 ribu programmer Rusia yang bermukim di Cyprus. Ini telah secara signifikan mengurangi kemampuan Rusia untuk melakukan perang siber," ungkap Khodorkovsky.

Selain itu, Khodorkovsky juga menjelaskan banyak teknisi Rusia yang telah kabur dari negara mereka padahal memiliki pekerjaan terkait produksi senjata berakurasi tinggi di Rusia.

Sebelumnya diberitakan, Rusia menyatakan telah selesai memanggil ratusan ribu pasukan cadangan untuk berperang di Ukraina.

Dilansir TribunWow.com, disebutkan bahwa dari jumlah tersebut, lebih dari seperempatnya sudah dikerahkan ke medan perang.

Namun, kabar ini tak lantas diyakini oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menilai Rusia pasti akan mengadakan wajib militer gelombang kedua.

Baca juga: Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina

Rusia mengumumkan berakhirnya wajib militer parsial tersebut pada hari Jumat (28/10/2022) lantaran merasa kuota pasukan yang dibutuhkan sudah berhasil dipenuhi.

Adapun upaya mobilisasi yang pertama dilakukan Rusia sejak Perang Dunia II tersebut telah menyebabkan puluhan ribu orang melarikan diri hingga menimbulkan protes publik berkelanjutan pertama terhadap perang.

Halaman
1234