"Ada lagi yang lebih lucu, ketika ingin main badminton, pada saat mereka akan mengarahkan Brigadir Yosua ini ke Duren Tiga, orang yang mau main badminton, tapi bukan membawa raket, justru membawa senjata HS milik Yosua dan menggunakan sarung tangan," beber Martin.
"Setahu saya kalau main badminton itu pakai raket sama kok, bukan pakai sarung tangan sama tembakan, itu mau latihan nembak."
"Ini sangat menggelikan, ini layaknya tayangan komedi tengah malam, jadi sangat tidak mendidik dan saya pun sangat-sangat geli mendengar statement mereka ini," tandasnya.
Baca juga: Pengacara Bharada E Tersenyum Dengar Ferdy Sambo Bantah Memerintah Tembak Brigadir J: Kami Gak Kaget
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-16.33:
Nasib Kasus Brigadir J jika Motif Pelecehan Terbukti
Menjelang persidangan yang akan digelar pada Senin 17 Oktober 2022 besok, eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo masih berpegang teguh kepada pengakuannya soal motif kasus pelecehan seksual.
Ferdy Sambo masih mengaku pembunuhan Brigadir J dilakukan karena korban diduga melakukan pelecehan seksual terhadap Putri Candrawathi alias PC di Magelang, Jawa Tengah.
Dikutip TribunWow dari Kompastv, Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menjelaskan apa yang terjadi jika nanti motif Ferdy Sambo terbukti terjadi.
Baca juga: Kesaksian Ferdy Sambo Berlawanan, Bharada E Terancam Jadi Bulan-bulanan 4 Tersangka Kasus Brigadir J
"Tapi motif dan perencanaan kan dua hal yang berbeda," ujar Adrianus.
Adrianus menjelaskan, pembunuhan terhadap Brigadir J terjadi karena motif tertentu.
Namun sempat terjadi persiapan dan tahap-tahap lainnya sebelum Brigadir J dieksekusi.
"Itu esensi perencanaan dalam rangka membunuh Almarhum J," kata Adrianus.
Adrianus menegaskan motif pembunuhan tidak akan memengaruhi dakwaan terhadap Sambo.
"Apapun motifnya tidak memengaruhi pada dakwaan," tegasnya.
Dikutip TribunWow dari Kompastv, pengacara PC yakni Sarmauli Simangungsong tidak menampik dugaan pelecehan menjadi penyebab Ferdy Sambo menghabisi nyawa Brigadir J.