TRIBUNWOW.COM - Lewat uji balistik dan autopsi jasad Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, ditemukan adanya peluru dari senjata api antik bernama Luger.
Keberadaan peluru dari senjata laras pendek buatan Jerman ini mengindikasikan adanya penembak ketiga selain Richard Eliezer alias Bharada E dan eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.
Dikutip TribunWow dari Kompastv, saat membahas soal senjata Luger ini, kuasa hukum Brigadir J Kamaruddin Simanjuntak mengungkit sosok ayah dari Ferdy Sambo.
Baca juga: Pengacara Brigadir J Ungkap Dugaan Ferdy Sambo Lakukan Pencucian Uang, Desak PPATK Lakukan Ini
Awalnya Kamaruddin menjelaskan bahwa senjata Luger ini tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang.
"Orang-orang yang punya koleksi senjata seperti ini tentu orang-orang yang berlatar belakang bahwa dia sejak dulu sudah menguasai persenjataan," jelas Kamaruddin.
Kamaruddin lalu mengungkit ayah Sambo yang ia sebut sempat menjabat sebagai polisi berpangkat Mayjen ketika Polri masih menjadi satu dengan TNI.
Terkait pengusutan kasus Brigadir J, Kamaruddin berharap pemerintah melibatkan TNI AD, AL, AU, dan PPATK.
Kamaruddin beranggapan, TNI lebih disiplin dibanding Polri yang ia sebut banyak oknum berkuasa yang kerap merekayasa kasus.
Kamaruddin menyoroti bagaimana posisi jabatan strategis di Polri tidak dijabat oleh polisi bersih atau baik.
"Sedangkan yang kerjanya baik-baik tidak pandai menjilat sehingga tidak di jabatan yang VIP," kata Kamaruddin.
Dikutip dari BANGKAPOS.com, Pieter Sambo sempat disebut-sebut sebagai ayah dari Ferdy Sambo.
Pieter Sambo sendiri adalah seorang polisi berpangkat Mayjen yang pernah dicalonkan menjadi Kapolri di era Soeharto.
Namun menurut keterangan orang dekat Pieter Sambo yakni Isdar Yusuf, ayah dari Ferdy Sambo bukanlah Pieter.
Pieter yang pernah menjabat sebagai Kapolda Irian Jaya dan Kapolda Sumatera Utara adalah paman dari Ferdy Sambo.
Sementara itu ayah Ferdy Sambo adalah William Sambo yang merupakan pensiunan PNS di Dinas Peternakan Kota Makassar.
Baca juga: Wajah Bripka RR Disebut Tampak Takut saat Bertemu Sambo di Rekonstruksi Kasus Brigadir J