“Kami sepenuhnya mendukung IAEA dalam semua upaya mereka dalam kaitannya dengan menciptakan kondisi stabilisasi pabrik,” tegas Guterres.
Ukraina mengatakan penembakan Rusia yang baru pada hari Sabtu telah merusak tiga sensor radiasi dan melukai seorang pekerja di pembangkit listrik Zaporizhzhia.
Penembakan ini merupakan serangan kedua dalam beberapa hari berturut-turut yang terjadi di situs tersebut.
Baca juga: Rusia Klaim Temukan Tumpukan Senjata di PLTN Zaporizhzhia Ukraina, Sita Lebih dari 500 Buah
Duta Besar Ukraina untuk IAEA, Yevhenii Tsymbaliuk, menggemakan seruan untuk inspektur internasional.
Ia mengatakan pasukan Rusia berusaha untuk menyebabkan pemadaman listrik di Ukraina selatan dengan menembaki PLTN, yang diduduki pasukan Rusia pada awal Maret tetapi masih dijalankan oleh teknisi Ukraina itu.
Petro Kotin, kepala perusahaan tenaga nuklir negara Ukraina Energoatom, mengatakan pembentukan zona demiliterisasi di sekitar lokasi dan kehadiran pasukan penjaga perdamaian akan menyelesaikan masalah ini.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Minggu, presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Rusia melancarkan “teror nuklir.
Ia menuntut lebih banyak sanksi internasional, kali ini di sektor nuklir Moskow.
“Tidak ada negara seperti itu di dunia yang bisa merasa aman ketika negara teroris menembaki pembangkit nuklir,” kata Zelensky.
Di sisi lain, pihak berwenang yang ditempatkan Rusia di daerah itu mengatakan pasukan Ukraina menghantam situs itu dengan beberapa peluncur roket.
Mereka merusak gedung-gedung administrasi dan daerah dekat fasilitas penyimpanan.
Kedutaan Rusia di Washington juga merilis pernyataan yang merinci kerusakan.
“Nasionalis Ukraina melancarkan serangan artileri di wilayah objek yang ditentukan pada 5 Agustus. Dua saluran listrik tegangan tinggi dan pipa air rusak akibat penembakan itu. Hanya berkat tindakan efektif dan tepat waktu dari militer Rusia dalam meliput fasilitas tenaga nuklir, infrastruktur kritisnya tidak terpengaruh,” kata kedutaan tersebut. (TribunWow.com)
Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina