TRIBUNWOW.COM - Komnas HAM telah selesai melakukan pemeriksaan kepada ajudan atau aide de camp (ADC) Kadiv Propam Polri nonaktif Ferdy Sambo.
Dilansir TribunWow.com, di antara para ajudan yang dipanggil, tampak sosok Bhayangkara Dua Richard Eliezer alias Bharada E.
Ajudan yang diduga menewaskan Brigpol Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J tersebut diperiksa selama lima jam mulai dari pukul 13.25 WIB hingga 18.26 WIB.
Baca juga: Sayatan di Kaki Brigadir J Ternyata Bekas Suntikan Formalin? Ketua Komnas HAM: Itu SOP
Adapun mengenai pertanyaan dalam pertemuan itu, Komisioner Komnas HAM membeberkan beberapa pokok pembahasan.
Satu yang disorot adalah kejadian baku tembak pada Jumat (8/7/2022) di rumah Ferdy Sambo yang berujung pada kematian Brigadir J.
"Yang kami dalami pastilah masih berupa keterangan terkait peristiwa hari-H," terang Choirul Anam dilansir kanal YouTube KOMPASTV, Selasa (26/7/2022).
"Itu pasti kami dalami, bahkan kami suruh menggambar posisi-posisinya. Itu yang pertama."
Selain itu, Komnas HAM juga menanyakan segala hal yang terjadi sehari sebelum insiden.
Antara lain adalah kondisi Brigadir J dan perilakunya sebelum hari kematian tiba.
"Yang kedua, kami mendalami spektrum sebelum hari-H, sebelum Jumat itu kami tarik ke belakang," kata Choirul Anam.
"Kami tanya semua apa yang terjadi, bagaimana peristiwa, bahkan kondisinya kayak apa."
Baca juga: Berubah Sikap setelah Kematian Brigadir J, Calon Istri sempat Histeris, Ibu: Seisi Rumah Terkejut
Choirul Anam membeberkan sebelum hari-H, Brigadir J masih terlihat ceria bahkan bisa bercanda tanpa tekanan.
"Misalnya salah satu yang penting, ini kondisinya bercanda-bercanda, tertawa, atau tegang. Kami tanya dan di beberapa orang yang ikut dalam forum itu ngomongnya memang tertawa-tertawa," jelasnya.
Kepergian Brigadir J mengantar Ferdy Sambo dan istri, PC, ke Magelang, Jawa Tengah juga ikut dibahas.
Komnas HAM secara mendetail, meminta setiap ajudan untuk menceritakan momen tersebut.
"Kami juga tarik spektrum waktu yang lebih luas, misalnya di Magelang ngapain, baju apa, ngapain saja, dan lain sebagainya," ujar Choirul Anam.
"Termasuk juga spektrum waktu, kapan berangkat dari Magelang, sampai kapan sampai di Jakarta."
Terakhir, Choirul Anam menanyakan mengenai karakter dan hubungan personal para ajudan.
Baik dengan masing-masing rekan ajudan maupun dengan atasannya, Ferdy Sambo.
"Kami juga menanyakan bagaimana sekuen ADC satu dengan yang lain, termasuk karakter masing-masing ADC," beber Choirul Anam.
Baca juga: 20 Menit sebelum Penembakan, Brigadir J Sempat Tanyakan Ini ke Kekasihnya Lewat Ponsel
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-1.00.00:
Sebelumnya, Pencetus Tim Advokat Penegakan Hukum dan Keadilan (TAMPAK), Saor Siagian juga menuntut pengusutan dugaan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigarid J.
Dilansir TribunWow.com, ia mengesampingkan tudingan pelecehan dan pengancamanan yang disebut dilakukan mendiang pada istri Kadiv Propam Polri nonaktif Irjen Ferdy Sambo.
Apalagi terkait narasi baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E yang menyebabkan insiden kematian di kompleks perumahan Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022) sekitar pukul 17.00 WIB.
Baca juga: Ragukan Penembak Brigadir J adalah Bharada E, Kuasa Hukum: Ajaib, Kena 4 Kali Menghasilkan 7 Lubang
Saor Siagian menekankan bahwa tudingan itu hanya berdasarkan kisah yang diungkapkan sepihak tanpa adanya bukti nyata.
"Ada fakta tembak-menembak, yang saya bilang itu halusinasi dari perspektif penegakan hukum," tegas Saor Siagian dikutip dari kanal YouTube Karni Ilyas Club, Rabu (20/7/2022).
"Yang pasti almarhum itu tidak pernah kena tembakannya, tetapi Bharada E lima tembakannya kena."
Sebagai informasi, kasus tersebut baru terungkap ke publik setelah tiga hari.
Pihak Ferdy Sambo diklaim sudah duluan melakukan pelaporan ke Polda Metro Jaya, sementara keluarga baru pada Senin (18/7/2022) melaporkan dugaan pembunuhan berencana Brigadir J.
Baca juga: Gamblang Perlihatkan Kondisi Jasad Brigadir J, Kuasa Hukum: Foto Ini Diambil ketika Polisi Lengah
Adapun TAMPAK sendiri telah melaporkan Ferdy Sambo dan Bharada E ke Propam Polri.
"Oleh karena itu yang pasti bagaimana tiba-tiba muncul bahwa kasus upaya pembunuhan itu naik lidik ke Polda Metro Jaya sama upaya pelecehan seksual sudah naik ke Polda Metro," tutur Saor Siagian.
"Tapi fakta yang terbunuh ini kemudian baru dilaporkan kemarin katanya akan diproses."
Karenanya, Saor Siagian menilai kasus ini merupakan insiden luar biasa dalam Institusi Polri.
Ia pun menuntut pihak penegak hukum untuk melakukan pengungkapan kebenaran di badannya sendiri.
"Ini saya bilang tragedi hukum yang sangat luar biasa, ada yang sudah mati, ada orang yang terbunuh," kata Saor Siagian.
"Menurut saya, kalau kita mau serius, yang terbunuh ini kita bongkar segera kita lakukan penyidikan."
"Karena saya bilang prematur soal dugaan ada pelecehan seksual, kemudian ada proses tembak-menembak, belum ada bukti," tegasnya. (TribunWow.com/Via)