TRIBUNWOW.COM - Pejabat Rusia menuding pihak Barat telah mengkhianati Rusia dengan menjatuhkan sanksi yang mengisolasi negaranya akibat invasi ke Ukraina.
Namun terlepas dari itu, Rusia harus tetap tetap menjadi bagian dari dunia global.
Hal ini bisa diraih dengan memberi kesempatan pada negara lain yang berpotensi untuk menjadi partner Rusia.
Baca juga: Politikus Putin Ancam Hancurkan Setengah Eropa dengan Rudal Nuklir akibat Sanksi Global untuk Rusia
Baca juga: Berusaha Lemahkan Rusia, AS Jatuhkan Sanksi Baru Buntut Invasi ke Ukraina, Nekat Putus Jalur Laut
Dilansir TribunWow.com dari RIA Novosti, Rabu (15/6/2022), hal ini diungkapkan CEO perusahaan negara Rostec, Sergei Chemezov dalam kolom untuk RBC.
Menurutnya, pembangunan tidak mungkin dilakukan tanpa kemitraan internasional, sehingga Moskow tetap perlu menjalin kerja sama dengan kawasan lain di dunia.
Ia menyebut sikap Barat tak perlu menjadi halangan untuk tetap melakukan hubungan internasional.
"Pengkhianatan oleh Barat bukanlah alasan untuk menutup jendela dan pintu. Kita tidak sejalan dengan konduktor sanksi, tetapi kami memiliki sekutu di wilayah lain di dunia yang saat ini berperilaku konsisten dan berprinsip," kata Chemezov.
Kepala perusahaan negara itu menyebut pembatasan yang dikenakan pada Rusia belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, dia menganggapnya tidak masuk akal, tidak ekonomis dan tidak mungkin untuk mencoba menggantikan segalanya.
"Ya, saat ini kami kehilangan akses ke barang, teknologi, komponen individual. Tapi ini bukan sinyal untuk substitusi impor total," kata Dirjen Rostec itu.
Chemezov menekankan bahwa Rusia membutuhkan kedaulatan teknologi di bidang teknologi kritis yang mempengaruhi keamanan nasional negara itu.
Barat meningkatkan tekanan sanksi terhadap Moskow setelah dimulainya operasi militer di Ukraina.
Beberapa negara mengumumkan pembekuan aset Rusia, dan banyak merek perusahaan meninggalkan negara itu.
Uni Eropa telah menyetujui enam paket sanksi, yang khususnya termasuk penerapan bertahap embargo impor batu bara dan minyak.
Kremlin menyebut tindakan Barat sebagai perang ekonomi, yang belum pernah terjadi sebelumnya.