TRIBUNWOW.COM - Sebuah peringatan bernada ancaman disampaikan oleh seorang pembawa acara TV atau anchor di Rusia bernama Vladimir Solovyov.
Solovyov mengucapakan kalimat bernada ancaman tersebut kepada Inggris.
Ancaman ini disampaikan seusai Inggris memprovokasi agar Ukraina melakukan serangan di wilayah milik Rusia.
Baca juga: Menlu Rusia Ungkap Potensi Perang Nuklir bila Kondisi Ini Terjadi: Banyak Pihak akan Menyukainya
Baca juga: 7 Fakta Nuklir di Konflik Ukraina, Trump Ngaku Berani Tegur Putin hingga Koper Berisi Tombol Nuklir
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Solovyov menjelaskan bagaimana Inggris dapat musnah apabila Rusia mengerahkan satu misil nuklir bernama Satan 2.
Misil ini diketahui mampu menjangkau jarak hingga 11 ribu mil dan memiliki 15 hulu ledak.
"Ternyata, satu Sarmat (Satan 2) berarti berkurang satu Inggris," ujar Solovyov.
Sebelumnya, pemerintah Rusia menuduh Inggris telah melakukan provokasi mengajak pasukan militer Ukraina agar berani masuk dan menyerang ke wilayah Rusia.
Berdasarkan pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, provokasi ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Inggris, James Heappey.
James disebut mendukung Ukraina menggunakan senjata buatang Inggris untuk mengincar target-target di dalam wilayah Rusia.
Dikutip TribunWow.com dari rt.com, Kemenhan Rusia memperingatkan apabila terjadi serangan di dalam wilayah Rusia maka Rusia akan melakukan serangan balik.
Pernyataan ini disampaikan oleh Kemenhan Rusia pada Selasa (26/4/2022).
"Seperti yang kami peringatkan, pasukan militer Rusia sedang berjaga-jaga sepanjang waktu untuk melakukan serangan balik dengan senjata jarak jauh berakurasi tinggi mengincar pengambil kebijakan di Kiev," ujar Kemenhan Rusia.
Sebelumnya James menyampaikan tidak ada yang salah jika Ukraina menggunakan senjata bantuan Inggris untuk menyerang target yang berada di dalam wilayah Rusia.
Sebelumnya, pemerintah Rusia menyebut pihaknya saat ini tidak hanya berperang melawan Ukraina.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, kini Rusia turut memerangi negara-negara Anggota NATO lewat Ukraina.