Alih-alih tersinggung, Pologna justru bisa mengikuti humor yang dibagikan masyarakat itu.
"Saya melihat seseorang mengubahnya menjadi ayunan, brilian. Orang lain meletakkan tiang tarian lap di atasnya. Mereka bahkan membuatnya menjadi arena curling. Pada titik ini kita dapat mengatakan bahwa itu adalah meja yang mengembangkan kreativitas," uja Pologna.
Dia menjelaskan bahwa meja putih itu memiliki panjang enam meter dan lebar dua setengah meter, sebagian besar terbuat dari kayu ek, dan benar-benar unik.
Perancang menyebut potongan itu sangat menantang untuk ditangani, dengan aksen di atas meja yang terbuat dari daun emas.
Dekorasi yang ada di meja tersebut semuanya dibuat secara manual dengan tangan.
Ketika ditanya tentang harga meja, Pologna mengatakan pada saat itu, dia dibayar dalam mata uang Italia Lire, yang secara resmi digantikan oleh Euro pada tahun 2002.
"Saya tidak ingat angka pastinya. Kami masih berbicara tentang Lire dan dengan hati saya akan mengatakan beberapa miliar Lire,' katanya.
Pada tahun 1999, Satu euro bernilai 1.936,27 lira.
Perancang mengatakan bahwa Kremlin bukan satu-satunya klien kelas atas.
Dia mengatakan banyak pesanan dari tokoh internasional, seperti syekh dan keluarga kerajaan di negara-negara Arab, dan sultan di Malaysia.
"Pada suatu waktu saya mendapat perintah dari keluarga Gaddafi dan Saddam," pungkasnya.
Baca juga: Kunjungi Rusia Bahas Konflik Ukraina, Sekjen PBB Justru Disindir Zelensky: Tidak Ada Mayat di Moskow
Baca juga: Ditegur PBB, Putin Dikabarkan Akhirnya Setujui Gencatan Senjata untuk Evakuasi Penduduk di Mariupol
Isu Putin Sakit Parah
Sementara kewarasannya dipertanyakan akibat keputusan menyerang Ukraina, kesehatan fisik Presiden Rusia Vladimir Putin turut menjadi perdebatan.
Pensiunan Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Inggris, Chris Parry, meyakini bahwa Putin mungkin sedang berjuang melawan kanker.
Kemungkinan, kondisi medis inilah yang mendorong keputusan untuk secara cepat melakukan invasi ke Ukraina.