TRIBUNWOW.COM - Aksi penjebolan tembok Keraton Kartasura di Sukoharjo, Jawa Tengah, menuai sorotan.
Sejumlah fakta pun akhirnya malah terangkat ke permukaan.
Mulai tanah di kawasan cagar budaya itu yang dijual dengan harga murah, sampai warga setempat yang menyalahkan pemerintah tak pernah merawat dan memberi bantuan dana.
Baca juga: Terlalu Bersemangat Pamer Strategi, Tentara Rusia Tak Sengaja Bocorkan Info ke Ukraina
Berikut fakta insiden dijebolnya tembok Keraton Kartasura :
1. Dijual Murah untuk Kos-kosan
Tanah di kawasan Keraton Kartasura itu milik Lisnawati.
Keponakan Lisnawati, Bambang Cahyono (54) mengatakan tanah itu dijual ke seorang pria bernama Burhanudin.
Tanah dibeli Burhan seharga Rp 850 juta dengan luas tanah 682 meter persegi.
Artinya, harga tanah itu adalah Rp 1,2 juta per meter persegi.
Mengingat lokasi Keraton Kartasura yang cukup strategis di daerah Kartasura, Solo dan sekitarnya, harga tanah itu di pasaran harga tanah Solo sebenarnya termasuk murah.
Menurut Bambang, sedianya, lahan tersebut akan dibangun untuk dijadikan rumah kos-kosan.
Baca juga: Viral Curhatan Pemotor di Bogor Ditilang Rp 2,2 Juta Gegara Tak Pakai Spion, Ini Nasib Oknum Polisi
2. Tak Tahu Bila Cagar Budaya
Pembeli tanah di Keraton Kartasura, Burhanudin (45), warga Kecamatan Gatak, Sukoharjo, tak tahu bila yang dirobohkannya adalah cagar budaya.
Burhan sapaan akrabnya mengaku tak menyangka akan terlibat kasus pengrusakan benda cagar budaya.
Dia baru saja membeli tanah di Kampung Krapyak Kulon, Kelurahan/kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.