Konflik Rusia Vs Ukraina

Media Rusia Soroti Hubungan AS dan Arab Saudi Memburuk di Tengah Konflik Ukraina dan Krisis Energi

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Terbaru, media Rusia kabarkan hubungan AS dan Arab Saudi kian memburuk di tengah konflik Ukraina, Kamis (21/4/2022).

TRIBUNWOW.COM - Belakangan, hubungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi dikabarkan memburuk.

Hal ini disebut-sebut membawa keuntungan bagi Rusia yang mulai mempererat hubungannya dengan Riyadh.

Sementara perpecahan tersebut justru merugikan AS yang kini sedang menghadapi krisis energi sebagai dampak konflik di Ukraina.

Penampakan limosin Aurus Senat milik Presiden Rusia Vladimir Putin saat kunjungan ke Uni Emirat Arab. Mobil tersebut diklaim memiliki teknologi super aman untuk melindungi Putin. (Thenationalnews.com/Dok. Pemerintah Rusia)

Baca juga: Sebut Putin Buaya, PM Inggris Ungkap Niat Zelensky Pukul Mundur Rusia dari Wilayah Ukraina

Baca juga: Makin Paranoid, Putin Dilaporkan Sering Mendengar Suara-suara, Diduga Sebabkan Konflik Ukraina

Dilansir TribunWow.com dari TASS, Kamis (21/4/2022), laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber-sumber diplomatik mengungkap titik awal ketegangan AS dan Arab.

Ketidaksepakatan keduanya telah meningkat sejak 2019 setelah pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi.

Interaksi AS dan Arab kini telah mencapai titik kritis setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman Al Saud, menuntut, antara lain, agar Presiden Joe Biden secara resmi mengakui klaimnya atas kekuasaan tertinggi di kerajaan Arab.

Ia juga menyinggung perubahan posisi Washington dalam perang saudara di Yaman, dan bahwa pasokan senjata presisi tinggi harus dibuka

Selanjutnya, Riyadh mencari jaminan keamanan yang ditegaskan kembali dalam konfrontasinya dengan Iran.

Sementara itu, menurut kanal berita Vedomosti, Biden terus-menerus menolak 'konsesi' ke Riyadh atas krisis Yaman.

Sampai sekarang, Washington telah berhenti mendesak Riyadh untuk meningkatkan produksi minyak, mencatat bahwa pihak Saudi tidak melakukan apa pun yang dapat membahayakan upaya Barat di Ukraina.

Menurut seorang sumber di kalangan pejabat Saudi, AS memandang kerja sama yang lebih erat antara Arab Saudi dengan China dan Rusia sebagai risiko besar.

Bahkan risiko itu tetap ada meski Arab berusaha mempertahankan netralitas mengenai situasi di Ukraina.

Perselisihan antara pemerintahan Biden dan Pangeran Salman menguntungkan Rusia, tetapi itu hanya sementara.

Boris Dolgov, peneliti senior di Pusat Studi Arab dan Islam di Institut Studi Oriental, mengatakan tujuan strategis Washington adalah untuk mendukung Arab Saudi, negara yang secara tradisional menentang Iran.

Halaman
123