Pada anak-anak, diagnosis gangguan makan pica hanya diberlakukan untuk anak berusia di atas 2 tahun.
Pasalnya, kebiasaan menggigit atau memasukkan benda asing ke dalam mulut pada anak di bawah umur 2 tahun memang merupakan bagian dari perkembangan anak, sehingga tidak dianggap sebagai gangguan makan pica.
Penanganan Gangguan Makan Pica
Penanganan gangguan makan pica biasanya dimulai dari mengobati gejala yang dirasakan akibat mengonsumsi benda atau zat yang bukan makanan.
Misalnya, jika pasien mengalami keracunan timbal karena makan serpihan cat, dokter akan meresepkan obat untuk mengeluarkan timbal melalui urine.
Sementara jika ganguan makan pica disebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi, dokter mungkin akan meresepkan suplemen vitamin atau mineral, misalnya, suplemen zat besi dan vitamin C untuk menangani defisiensi zat besi.
Selain itu, dokter juga akan mengevaluasi pasien dari sisi psikologis untuk menentukan apakah dia memiliki kondisi kesehatan mental tertentu, seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD) atau autisme.
Jika terdapat masalah kesehatan mental, dokter akan meresepkan obat atau terapi yang cocok atau merujuk pasien ke psikiater.
Dengan begitu, diharapkan perilaku mengonsumsi benda atau zat yang bukan makanan dapat berkurang dan hilang.
Dalam jangka lama, gangguan makan pica dapat berdampak buruk pada kesehatan, mulai dari infeksi parasit, pembuntuan usus, dan keracunan.
Maka dari itu, jika Anda mengalami gangguan makan pica atau mengenal orang yang mengalaminya, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. (*)
Baca berita Viral lainnya
Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Jadikan Kertas Makanan Pencuci Mulut, Balita di Bekasi Ternyata juga Gemar Konsumsi Benda Kotor Ini