Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, para elit di Rusia saat ini tidak puas dengan aksi Putin terutama karena sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh sejumlah negara.
Putin dan Bortnikov telah saling kenal semenjak sama-sama bertugas di badan intelijen Uni Soviet yang lebih dikenal dengan nama KGB.
Sejak menjabat sebagai Kepala FSB pada tahun 2008, Bortnikov dikenal sebagai tokoh yang berperan sebagai senjata untuk menghukum musuh-musuh Putin.
Dossier Center menyebut FSB sebagai otak dan jantung dari pemerintahan Putin.
Sebagai informasi, Dossier Center adalah sebuah proyek yang telah membongkar skandal-skandal internal pemerintahan Rusia.
Proyek Dossier Center diprakarsai oleh tokoh oposisi sekaligus konglomerat Rusia bernama Mikhail Khodorkovsky yang kini diasingkan oleh negara asalnya.
Pada tahun 2006 silam, Bortnikov juga dituding terlibat dalam pembunuhan mantan agen KGB bernama Alexander Litvinenko.
Litvinenko diketahui telah membelot ke Inggris dan membongkar rahasia internal pemerintah Rusia.
Bortnikov juga dikenal sebagai sosok yang pro terhadap Diktator Uni Soviet yakni Josef Stalin.
Bortnikov melihat tidak ada yang salah saat Stalin mengeksekusi musuh-musuhnya termasuk lawan politiknya secara besar-besaran.
Intelijen Ukraina mendapat informasi bawha sejumlah elit di Rusia meyakini Bortnikov mampu memperbaiki hubungan ekonomi Rusia dengan negara-negara barat.
Perpecahan Terjadi antar Pejabat Militer
Di sisi lain, beredar kabar bahwa Putin kini tengah mengatasi perpecahan dalam tubuh pemerintahannya sendiri.
Hal ini ditandai dengan penangkapan Kolonel Jenderal Sergei Beseda, kepala Dinas Kelima dari dinas intelijen FSB dan wakilnya.
Menurut laporan intelijen, konflik internal tersebut terjadi lantaran adanya pertikaian pendapat mengenai invasi Rusia ke Ukraina.
Baca juga: Pakar Sebut Kematian Jenderal Rusia Jadi Pertanda Kondisi Perang di Ukraina Sesungguhnya
Baca juga: Daftar Komandan Rusia yang Tewas di Ukraina, Terkini 1 Jenderal dan 7 Tim Elite Putin Gugur