TRIBUNWOW.COM - Hari Selasa (1/3/2022) menandakan masuknya hari ke-6 invasi Rusia di Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin sejak awal berdalih invasi yang ia lakukan adalah operasi militer spesial dengan tujuan melakukan demiliterisasi dan mendukung kemerdekaan Republik Donbass yang baru saja terbentuk.
Selama konflik ini berlangsung beredar informasi saling berlawanan dari kedua belah pihak.
Dilansir TribunWow.com, berikut ini adalah sejumlah klaim dari pihak Ukraina dan Rusia terkait operasi militer spesial yang diumumkan oleh Putin.
Baca juga: Kedutaan Ukraina Sempat Ajak Warga Israel Datang Ikut Perang Lawan Rusia
Baca juga: Ratusan Warga Inggris Sukarela Ikut Perang di Ukraina, Ada yang Siap Mati karena Hidup Sendirian
1. Prajurit Ukraina Tembaki Rumah Warganya
Prajurit dari layanan keamanan Ukraina bersama pasukan ultranasionalis Azov disebut telah melakukan tindakan provokasi menembaki perumahan warga sipil.
Penembakan dilakukan seakan-akan mereka merupakan pasukan militer Rusia.
Informasi ini disampaikan oleh Tass Russian News Agency, media massa yang dikelola oleh pemerintah Rusia.
Menurut petinggi milisi di Republik Donbass, Eduard Basurin, provokasi ini terjadi di Mariupol.
"Pasukan nasionalis Azov saat ini sedang mempersiapkan aksi provokasi di Mariupol melibatkan non kombatan," ujar Basurin.
"Pasukan layanan keamanan Ukraina bersama prajurit dari Azov berencana menembaki rumah warga sipil dan penduduk Mariupol sambil menyamar sebagai pasukan militer Rusia," ungkapnya.
2. Hadapi Chechen Pakai Peluru Campur Lemak Babi
Pasukan Azov sendiri sebelumnya sempat menjadi kontroversi di media sosial (medsos).
Dalam cuitan akun resmi Twitter milik Garda Nasional Ukraina @ng_ukraine, tampak Batalion Azov yang merupakan bagian dari Garda Nasional Ukraina melumuri peluru senjata mereka menggunakan lemak babi.
Peluru tersebut diakui oleh prajurit Batalion Azov untuk melawan pasukan muslim Chechen asal Republik Chechnya yang membantu Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan invasi.