Keduanya juga berasal dari universitas ternama di mana Ganjar adalah alumni Universitas Gajah Mada (UGM) dan Puan alumni Universitas Indonesia (UI)
Ganjar Pranowo sangat dekat dengan Kelompok Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan bahkan beristrikan cucu dari KH Hisyam Abdul Karim, yang merupakan Ulama besar dari Kalijaran, Purbalingga.
“Sementara garis keturunan dari Puan Maharani merupakan cucu dari proklamator bangsa, yaitu Bung Karno dan cucu dari Tjik Agus Kiemas ayah H. Muhammad Taufik Kiemas, yang merupakan Tokoh Masyumi di Sumatera,” papar dia.
Elektabilitas Ganjar Vs Puan
Baru-baru ini, Voxpopuli Research Center merilis hasil survei nama-nama tokoh untuk dikaitkan dengan pemilihan calon presiden atau capres pada Pilpres 2024.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, disebut memiliki elektabilitas tinggi dan bersaing dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
"Persaingan ketat memperebutkan peringkat pertama dalam bursa calon presiden terjadi antara Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo," kata Direktur Komunikasi Voxpopuli Research Center Achmad Subadja melalui keterangan resminya di Jakarta, Kamis (16/12/2021), dikutip dari Kompas TV.
Prabowo masih menjadi yang tertinggi dengan elektabilitas sebesar 19,3 persen, disusul Ganjar dengan sebesar 19,1 persen.
Keduanya terpaut jauh lebih tinggi dibanding nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menempati posisi ketiga.
Berdasarkan hasil survei Voxpopuli, Anies Baswedan hanya meraih elektabilitas 10,8 persen, Ridwan Kamil 10,0 persen dan Sandiaga Uno 7,2 persen.
"Prabowo dan Ganjar berebut posisi unggulan dalam bursa capres 2024," ucap Achmad Subadja.
Antara Ganjar dan Prabowo, Achmad menilai elektabilitas Prabowo lebih stabil dibanding Ganjar.
Namun, hal itu masih bisa berbuah dankeduanya masih bisa bersaing dengan nama siapa yang akan disandingkan dengan mereka di Pilpres 2024 nanti.
"Yang diperlukan adalah figur pasangan calon wakil presiden yang dapat memperkuat dukungan publik dan menggalang koalisi partai-partai pengusung," ujarnya.
Namun, Ganjar juga masih terkendala habisnya masa jabatan Gubernur Jawa Tengah pada 2023 dan kendaraan politik yang akan mengusungnya.