Virus Corona

Studi Sebut Kini Kabut Otak Lebih Banyak Ditemukan Pada Pasien Long Covid, Ini Tandanya

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi gambat CT scan otak. Para ahli memperingatkan risiko penurunan fungsi kognitif pada penyintas Covid-19.

TRIBUNWOW.COM - Sebuah studi baru yang dipublikasi oleh Mount Sinai Medicine menemukan bahwa hampir dua pertiga pasien long Covid melaporkan merasakan apa yang dinamakan kabut otak.

Itu termasuk gejala kehilangan ingatan atau memori singkat mereka yang dikatakan bisa sangat berpengaruh terhadap aktivitas.

“Pekerjaan kami dan pekerjaan orang lain telah menunjukkan bahwa ini mempengaruhi kemampuan orang untuk membuat rencana, mensintesis informasi, dan melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari mereka,” kata David Putrino, Direktur Inovasi Rehabilitasi di Rumah Sakit Mount Sinai di New York, dikutip dari CNBC

Baca juga: Diklaim Cegah Keparahan Covid-19, Studi Jelaskan Manfaat Konsumsi Vitamin D saat Isolasi Mandiri

Baca juga: Antisipasi Gelombang Ketiga Lonjakan Covid-19, Molnupiravir akan Ada di Indonesia pada Akhir Tahun

Selain itu mereka juga mungkin memiliki gejala setidaknya selama 12 bulan setelah infeksi Covid-19 awal.

Dalam studi tersebut long Covid dikatakan telah secara signifikan berdampak negatif pada kognisi kemampuan untuk bekerja, partisipasi dalam aktivitas fisik, interaksi dengan orang lain, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

“Ini mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan tampaknya tidak membeda-bedakan siapa yang akan dijatuhkan setelah peristiwa akut,” kata Putrino.

“Mereka menderita banyak kehilangan ingatan dan ketidakmampuan untuk konsenterasi, mengingat, serta kesulitan menentukan kata-kata dalam berbicara. Ini adalah kondisi yang sangat melemahkan dengan kondisi kognitif yang serius.”

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Physical and Rehabilitation Medicine edisi 25 Oktober ini, adalah salah satu yang pertama mengukur penurunan aktual dan dampak long Covid pada pasien.

Ini juga merinci faktor-faktor yang dapat memperburuk gejala mereka.

Studi tersebut juga dikatakan akan membantu memandu pembuat undang-undang dan lembaga kesehatan nasional dan internasional untuk mengembangkan strategi dan kebijakan untuk mendukung pasien ini selama pemulihan panjang mereka.

Baca juga: Diklaim Cegah Keparahan Covid-19, Studi Jelaskan Manfaat Konsumsi Vitamin D saat Isolasi Mandiri

“Dengan jutaan orang Amerika berisiko mengembangkan long Covid pada akhir pandemi, darurat kesehatan masyarakat jangka panjang kedua telah muncul," lanjutnya.

"Sangat penting untuk memahami beban kondisi baru ini dan mengembangkan intervensi yang ditargetkan untuk membantu pasien berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari, serta kebijakan yang akan membantu mereka dengan disabilitas dan status pekerjaan mereka.” 

Meski menambah kekhawatiran di tengah harapan setelah vaksin Covid-19 digencarkan dan obat-obatan untuk Covid-19 dikembangkan, penelitian ini diharap menjadi pengingat.

Meski dengan vaksin, atau obat-obatan Covid-19 bisa menyelamatkan mereka dari Covid-19, hubungannya dengan long Covid harus dikaji kembali.

“Studi ini adalah pengingat yang mengkhawatirkan tentang betapa parahnya gejala long Covid yang melemahkan, dampak yang ditimbulkan pada kesehatan dan kesejahteraan, dan fakta bahwa, tanpa pengobatan aktif, gejala-gejala ini tampaknya bertahan tanpa batas.”

Dalam penelitian Putrino, para peneliti memeriksa berapa lama Covid dapat memengaruhi kemampuan orang untuk bekerja.

Dan mereka menemukan hampir setengah dari semua penderita long Covid yang disurvei mengatakan mereka tidak dapat kembali bekerja penuh.

Studi ini juga menemukan bahwa hampir dua pertiga pasien Covid dalam jangka panjang melaporkan "kabut otak", yang mencakup kehilangan ingatan.

Putrino menggarisbawahi bahwa long Covid adalah masalah yang sangat nyata, dan bahwa lebih banyak perhatian perlu diberikan untuk memberikan perawatan jangka panjang kepada pasien yang terkena dampak.

“Ini mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan tampaknya tidak membeda-bedakan siapa yang akan dijatuhkan setelah peristiwa akut,” kata Putrino.

“Kita perlu mengatur, dan kita perlu mulai melibatkan kelompok pemerintah dalam memberikan perawatan jangka panjang bagi pasien yang telah sakit lebih dari setahun sekarang tanpa akhir yang nyata.” (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)

Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya