Virus Corona

Antisipasi Gelombang Ketiga Lonjakan Covid-19, Molnupiravir akan Ada di Indonesia pada Akhir Tahun

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Foto selebaran ini diperoleh 26 Mei 2021, atas izin perusahaan Farmasi Merck. Foto menunjukkan kapsul obat antivirus eksperimental Molnupiravir.

TRIBUNWOW.COM - Menteri Kesehatan RI (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa di Indonesia sebentar lagi akan tersedia obat Covid-19 yang berbentuk pil. 

Obat yang dinamakan Molnupiravir itu rencananya akan didatangkan pada akhir tahun ini untuk mengantisipasi gelombang ketiga Covid-19. 

"Kami sudah sampai ke tahap finalisasi dari agreement (kesepakatan) agar Indonesia bisa mengadakan tablet Molnupiravir diusahakan di akhir tahun ini (tiba di Indonesia)," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/10/2021) dikutip dari Tribunnews.com.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Suplemen Vitamin C Diperlukan bagi Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri

Baca juga: Diklaim Cegah Keparahan Covid-19, Studi Jelaskan Manfaat Konsumsi Vitamin D saat Isolasi Mandiri

Harapannya, obat itu bisa menjadi solusi apabila di Indonesia terjadi gelombang lonjakan kasus Covid-19 seperti yang terjadi pada pertengahan tahun ini. 

Untuk itu dia memastikan untuk memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi potensi bahaya itu.

"Sehingga kita punya cadangan cukup jika ada potensi gelombang berikutnya," jelasnya. 

Sebelumnya, Menkes bersama dengan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan akan terbang ke Amerika Serikat untuk mengusahakan agar Molnupiravir bisa diproduksi di Indonesia. 

Terkait hal itu dia tidak menjelaskan lebih detail, namun mengatakan bahwa rencananya untuk bertemu dengan pihak perusahaan farmasi pengembang obat tersebut sudah terealisasi.

"Kami sudah menjajaki dengan mereka agar bisa membangun pabrik obatnya juga di Indonesia termasuk bahan baku obatnya," imbuh Budi.

Selain Molnupiravir, ada dua obat lain yang juga akan dijajaki pemerintah untuk bisa digunakan di Indonesia. 

Baca juga: Di AS, Anak Usia 5-11 Tahun akan Segera Dapat Vaksin Covid-19, Kemenkes Buka Suara untuk Indonesia

Obat tersebut adalah AT-527 yang dikembangkan oleh Rosche dan Atea Pharmaceutical, serta proxalutamide yang diproduksi oleh Kintor Pharmaceutical.

Molnupiravir memang menjadi obat yang paling banyak dibicarakan setelah Merck mengumumkan hasil awal uji tahap akhir dari obat tersebut pada akhir September lalu.

Obat pil produksi Perusahaan Farmasi Merck yang dinamakan Molnupiravir sedang dalam proses pengajuan izin penggunaan darurat kepada Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sebagai terapi Covid-19. 

Jika disetujui, ini akan menjadi obat pil pertama yang digunakan untuk terapi Covid-19.

Obat ini menjadi spesial karena bentuknya dan cara penggunaannya yang dilakukan melalui oral. 

Bahkan obat ini disebut-sebut bisa merubah pandemi Covid-19 secara signifikan. 

Pasalnya obat-obatan lain yang menggunakan injeksi atau suntikan masih terbilang mahal dan hanya bisa dilakukan di rumah sakit. 

Obat ini juga dianggap bisa didistribusikan lebih luas dibanding dengan vaksin yang membutuhkan perlengkapan khsusu ketika dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Data awal terkait hasil obat ini dipresentasikan pada Rabu (28/9/2021) di IDWeek, pertemuan tahunan organisasi penyakit menular, menunjukkan bahwa obat oral Molnupiravir terbukti paling efektif bila diberikan kepada pasien sejak awal infeksi mereka.

Merck dan mitranya Ridgeback Biotherapeutics mengatakan hasil awal menunjukkan pasien yang menerima obat dalam lima hari sejak gejala awal Covid-19 mengurangi sekitar setengah tingkat rawat inap dan kematian.

Halaman
12