Hasil efikasi yang didapat dari masing0masing lokasi bisa berbeda.
Di Turki, efikasi vaksin Sinovac mencapai 91,25 persen.
Sedangkan di Indonesia efikasinya 65,3 persen.
Demikian pula vaksin buatan AstraZeneca.
Di negara-negara yang telah menjadi lokasi uji klinis vaksin AstraZeneca menunjukkan efikasi rata-rata sebesar 70 persen.
Di Indonesia, BPOM mengumumkan efikasi vaksin AstraZeneca sebesar 62,1 persen.
5. Basis Platform Vaksin
Vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse sebagai platform awalnya.
Ini berarti bahwa tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.
Virus yang dimodifikasi ini membawa sebagian dari Covid-19 coronavirus yang disebut protein spike, bagian menonjol seperti paku yang ada di permukaan Virus Corona SARS-CoV-2.
Saat vaksin dikirim ke sel manusia, ini memicu respons kekebalan terhadap protein spike, menghasilkan antibodi dan sel memori yang akan mampu mengenali virus penyebab Covid-19.
Vaksin vektor adenovirus telah dikembangkan sejak lama, khususnya untuk melawan malaria, HIV, dan Ebola.
Sementara vaksin yang dibuat Sinovac menggunakan inactivated virus atau virus utuh yang sudah dimatikan.
Tujuannya adalah memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius.
Metode inactivated virus adalah metode yang sering dipakai dalam pengembangan vaksin lain seperti polio dan flu. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac, dari Tingkat Kemanjuran hingga Harga"