Selain itu, Rocky juga yakin Moeldoko sudah punya pertimbangan matang sebelum menerima jabatan ketua umum Partai Demokrat.
"Masa presiden menganggap hal ini biasa saja?"
"Jadi ada komplotan yang berupaya memastikan bahwa peristiwa di Sibolangit harus disempurnakan."
"Pak Moeldoko pasti sudah dapat keyakinan bahwa Departemen Hukum dan HAM akan melegalisir keputusan di Sibolangit," tandasnya.
Simak videonya berikut ini mulai menit ke-3.16:
Pengakuan Gatot Nurmantyo
Di sisi lain, sebelumnya, Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gatot Nurmantyo mengaku pernah didatangi seseorang untuk mendongkel posisi Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dilansir TribunWow.com, hal itu diungkapkan Gatot dalam kanal YouTube Bang Arief yang diunggah Sabtu (6/3/2021).
Meski menyebut tawaran tersebut menarik, Gatot mengaku enggan membalas jasa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) padanya dengan mendongkel posisi AHY.
Baca juga: Jokowi Diminta Turun Tangan soal Kisruh Demokrat, Mahfud MD Ungkit Era SBY: Juga Tak Lakukan Apa-apa
Baca juga: Hasil KLB Demokrat yang Tunjuk Moeldoko Jadi Ketum Bisa Mendapatkan SK Sah jika Penuhi Syarat Ini
"Datang, 'Wah, menarik juga'. Saya bilang, gimana prosesnya? 'Begini Pak, nanti kita bikin KLB. KLB terus gimana? Ya nanti visi yang dilakukan adalah kita mengganti AHY dulu'," cerita Gatot.
"'Mosi tidak percaya, AHY turun. Setelah turun, baru pemilihan'."
"'Bapak nanti pasti deh begini, begini'. Oh begitu ya, saya bilang begitu gitu."
Saat mendapat tawaran itu, Gatot langsung teringat jasa SBY dalam karier kemiliterannya.
Karena itu, Gatot tanpa berpikir panjang menolak tawaran tersebut.
"Saya bilang menurunkan AHY, saya bilang gini lho, 'Saya ini bisa naik bintang satu, bintang dua, taruh lah itu biasalah'," ujar Gatot.