TRIBUNWOW.COM - Pengamat politik Rocky Gerung meyakini Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko, sudah punya pertimbangan sebelum menerima jabatan Ketua Umum Partai Demokrat di Kongres Luar Biasa (KLB), Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara.
Dilansir TribunWow.com, Rocky menyebut Moeldoko tak mungkin berani mengambil langkah tersebut jika berpeluang mengancam posisinya di pemerintahan.
Karena itu, ia pun menyinggung restu Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Baca juga: Sebut Moeldoko Layak Dipecat jika Lakukan Manuver Tak Seizin Jokowi, Din Syamsuddin: Merusak Citra
Baca juga: KTA Partai Demokrat Moeldoko Dipertanyakan, Max Sopacua Samakan dengan Milik AHY pada 2016
Seperti yang diungkapkannya dalam kanal YouTube Rocky Gerung Official, Senin (8/3/2021).
Mulanya, Rocky menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM (Menko Polhukam), Mahfud MD.
"Saya kira spekulasi terhadap ucapan Mahfud MD masih terus berlangsung," jelas Rocky.
"Karena ini rahasia Istana yang mungkin baru bisa kita bongkar beberapa minggu ke depan setelah kasus ini diperlihatkan."
"Tapi publik tidak percaya kalau Pak Mahfud enggak tahu bahwa Pak Moeldoko melakukan hal yang sangat mungkin direstui presiden," sambungnya.
Rocky lantas menyinggung jabatan Moeldoko di KSP.
Baca juga: Soal Kisruh Demokrat, Din Syamsuddin Sebut Moeldoko Layak Dipecat dari KSP, Singgung Citra Jokowi
Baca juga: Mantan Ketua MK Beberkan 2 Cara jika Pemerintah Ingin Pastikan Sikap Netral soal Kudeta Demokrat
Menurut dia, Jokowi mungkin memberi restu bagi Moeldoko untuk mendongkel posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
"Kan ini orang dekat presiden, agak ajaib sebetulnya dalam sistem pemerintah presidensial," kata Moeldoko.
"Pejabat presiden paling dekat, bisa disebut orang kedua dalam administrasi."
"Pak Ma'ruf Amin orang kedua dalam sistem kenegaraan."
"Tapi dalam aktivitas sehari-hari, KSP itu tangan kanan, bahkan jempol kanan presiden," sambungnya.
Karena itu, Rocky menduga keterlibatan pemerintah.