Selanjutnya pada 1999, Leni meraih medali emas dan perak pada Sea Games di Brunei Darussalam.
Kemampuan Leni dinilai bisa menyamai atlet senior dan langsung dikirim ke Jakarta.
Ia bercerita salah satu kenangan yang berkesan adalah saat ia ke Australia pada Oktober 1997. Saat keluar dari pesawat, ia menggigil kedinginan karena suhu udara minus nol derajat.
Kala itu, menurut Leni, salah satu rekannya asal Papua yang bernama Martinus sempat mimisan saat berlatih karena suhu udaranya yang sangat dingin dan Martinus tak mengenakan jaket.
Leni tersenyum saat menceritakan masa-masa itu dan dia bersama rekan-rekannya berhasil pulang membawa emas untuk Indonesia.
Yang membanggakan, saat mereka memenangkan medali di Melbourne, Leni dan kawan-kawannya diundang ke sebuah universitas yang memiliki fakultas olahraga.
Saat itu, dia merasa bangga pada diri sendiri, karena bisa membanggakan orangtua.
Leni bercerita, saat dikirim ke Jakarta, sang ibu sempat memaksanya pulang ke Jambi. Sesampai di rumah, ia tekejut saat melihat banyak hantaran di ruang tamu.
“Siapa yang mau kawin ni?” kata Leni saat bertanya kepada orang di rumahnya pada waktu itu.
Ternyata, dia dijodohkan dengan Ikhsan, pria yang sudah lama menyukainya dan kemudian juga ikut pelatnas dayung.
Hanya saja, Ikhsan tak ikut sampai kejuaraan internasional.
“Bagi Bapak (Ikhsan), olahraga dayung itu untuk kesehatan fisik,” kata dia.
Sejak itu, ibu dan suaminya mendukung pertandingan-pertandingan yang diikuti Leni.
Kulit Anak Melepuh jika Terkena Matahari
Leni bercerita anak bungnya, Habibatul Pasehah memiliki kulit yang rapuh dan mudah terluka.