Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Kisah Tim Penyelam Sriwijaya Air Harus Terapi Dekompresi di Hari ke-9, Alami Sejumlah Gejala Pusing

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tim Penyelam Sriwijaya Air 182 menjalani terapi hiperbarik untuk mengatasi gejala dekompresi, Senin (18/1/2021).

"Di bawah sana kondisinya sudah hancur, sudah berentuk puing-puing," jelasnya.

Prajurit TNI mengevakuasi serpihan dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak saat melakukan pencairan di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1/2021). Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021) sekitar pukul 14.40 WIB di ketinggian 10 ribu kaki tersebut membawa enam awak dan 56 penumpang. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Terlepas dari itu, Eko mengaku menjadi suatu kehormatan bisa menjadi bagian dalam proses tugas mulia mencari korban dan puing pesawat Sriwijaya Air.

"Sukanya ini suatu kehormatan sebagai prajurit Pasukan Katak," kata Eko.

"Karena kita diberi kepercayaan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," imbuhnya.

Selain suka, Eko mengaku juga menjadi duka tersendiri.

Baca juga: Lihat Penampakan Bawah Laut Lokasi Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Ditemukan Oksigen Milik Pilot

"Dukanya kita ikut berduka juga akan musibah ini, ikut merasakan ketika melihat puing-puing, melihat kondisi di luar sana," ungkapnya.

"Untuk memicu semangat kita dengan melihat saudara-saudara kita atau rekan-rekan kita yang sedang bekerja itu menjadi semangat bagi kita," ucap Eko.

Lebih lanjut, Eko saat ini hanya berharap seluruh korban bisa ditemukan dan bisa diidentifikasi sehingga segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Terkait badan pesawat, Eko juga berharap bagian penting yakni cockpit voice recorder (CVR) bisa ditemukan.

"Semoga seluruh korban bisa diidentifikasi dan untuk CVR yang masih kita cari bisa segera diketemukan," pungkasnya. (TribunWow.com/Brigitta/Elfan)