TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini, pihak kepolisian telah memindahkan 23 terduga teroris anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dari Lampung ke Jakarta.
Seusai pemindahan tersebut, pihak kepolisian membongkar cara ekstrem kelompok JI melatih anggota-anggota barunya.
Para teroris muda atau anggota baru JI diterjunkan langsung ke medan perang sebelum nantinya kembali ke Indonesia.
Baca juga: Soal Tudingan 37 Oknum FPI Terlibat Terorisme, Kuasa Hukum: Kalaupun Benar, Tidak Bisa Disangkutkan
Baca juga: Pengakuan Teroris Upik Lawanga, Disuruh Sosok Ini untuk Asah Ilmu Buat Bom: Nanti Disuplai Alat
Dikutip dari Kompas.com, fakta itu diungkapkan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono.
"Mereka (JI) sudah menyiapkan kemampuan diri dengan pelatihan-pelatihan khusus guna mempersiapkan kekuatan melawan musuh yakni negara dan aparat," kata Argo dalam keterangannya Minggu (20/12/2020).
Diketahui, pengaderan para teroris muda JI disusun begitu rapi.
Pengaderan para anggota teroris muda itu dipimpin oleh divisi khusus.
Divisi atau bagian pengaderan para teroris muda JI itu dipimpin oleh koordinator pelatihan bernama Joko Priyono alias Karso.
Kemudian posisi penanggung jawab diisi oleh Para Wijayanto.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Polri, dari total 91 kader JI yang menjalani pelatihan tempur, 66 di antaranya telah dikirim ke Suriah.
Dari total 66 orang yang dikirim ke Suriah, beberapa di antaranya telah pulang ke Indonesia.
"Sebagian besar dari mereka juga sudah berangkat ke Suriah bergabung dengan kelompok teror di sana dan berperan aktif dalam konflik di Suriah," ucap Argo.
"Kemampuan yang sudah diasah di tempat pelatihan dan medan tempur sebenarnya (Suriah) menjadikan mereka sebagai potensi ancaman nyata," sambungnya.
Argo menuturkan, berita bohong dan hoaks yang beredar di Indonesia juga berkontribusi menyebarnya paham radikal di Indonesia.
Dari November hingga Desember 2020, terdapat 23 terduga teroris anggota kelompok JI yang ditangkap oleh tim Densus 88.