Terkini Nasional

Kisah Eks Pengungsi Timor Timur di NTT: Kami Hidupnya Sengsara, Makan Minum Saja Setengah Mati

Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anak-anak pengungsi Timor Timur berpose di dalam tenda mereka di kamp pengungsi Tuapukan di Kupang, NTT, 16 September 1999.

Namun, pada 2002, status pengungsi dihapus oleh UNHCR. Artinya, tak ada lagi bantuan dari organisasi pengungsi PBB itu.

"Sesudah itu kita mulai hidup cari kayu untuk buat rumah darurat sementara," ujar pria yang akrab dipanggil Oky ini.

"Kita potong kayu untuk dibuatkan tiang untuk rumah. Daun lontar dijadikan atap kita. Karena kita tidak bisa membeli alat-alat, bahan bangunan, jadi kita memakai apa yang ada di lingkungan kita," ujar Oky.

"Dan sampai sekarang kita masih hidup di rumah beratapkan daun lontar, dengan [dinding] bebak-bebak yang hampir lapuk."

Seperti diketahui, pada 22 Desember 2002, UNHCR telah mendeklarasikan cessation of status, atau penghapusan status pengungsi bagi warga Timor Timur yang ada di Indonesia.

Langkah serupa diikuti oleh pemerintah Indonesia pada 2005.

Sayangnya, penghapusan status pengungsi itu tak menuntaskan persoalan warga eks pengungsi. Sebab, lahan yang mereka tempati bukanlah milik mereka.

Ketika di Dili, kata Oky, keluarganya mendapat penghasilan dari bercocok tanam di lahan yang ia miliki. Namun di pengungsian, mereka terpaksa menjadi buruh tani lantaran tak lagi memiliki lahan untuk digarap.

Ia menuturkan, saat ini ada lebih dari 250 keluarga yang tinggal di Tuapukan dengan satu rumah dihuni oleh dua - tiga keluarga.

'Seorang Petani akan Mati kalau Tidak Ada Tanah'

Seorang anggota Pasukan Penjaga Perdamaian Australia (PKF) memeriksa dokumen pengungsi Timor Timur di perbatasan antara Atambua, Kupang, Indonesia dan Batu Gade, Timor Timur, 06 Juli 2002. (AFP/ANTONIO DASIPARU)

Keresahan akan kepastian status tanah, memicu unjuk rasa menuntut hak atas tanah yang mereka tinggali di NTT, selama dua dekade terakhir itu.

Demonstrasi yang digelar bertepatan dengan Hari HAM Sedunia pada 10 Desember lalu, merupakan demonstrasi kedua setelah sebelumnya demonstrasi digelar di bulan September.

"Selama 21 tahun hidup dalam ketidakjelasan ini, sampai kita turun ke jalan itu merupakan sebuah refleksi yang panjang akan masa depan kami dan masa depan anak cucu kami," kata Oky, menjelaskan alasan dibalik unjuk rasa itu.

"Seorang petani akan mati kalau tidak ada tanah, terus bagaimana kalau kami tidak punya tanah untuk kami garap dan bisa makan dan minum," jelas Oky.

Sementara, upah sebagai buruh tani, menurut Oky, tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Halaman
1234