TRIBUNWOW.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyoroti minimnya realisasi anggaran untuk penanganan Covid-19.
Hal itu terjadi dalam rapat terbatas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Senin (3/8/2020), seperti yang dikutip dari tayangan Youtuber Sekretariat Presiden.
Dilansir TribunWow.com, Jokowi mengatakan bahwa anggaran yang dikeluarkan untuk Covid-19 baru sebanyak 20 persen dari total anggaran yang disiapkan sebesar Rp 695 triliun.
Dengan begitu artinya, baru sekitar Rp 141 triliun anggaran yang sudah tersalurkan.
• Masyarakat Menengah Bawah Sulit Terapkan Protokol Kesehatan, Jokowi: Perlu Sosialisasi Satu per Satu
• 4 Fakta Sapi-sapi Jokowi di Idul Adha 2020, Tidur di Karpet Jutaan, Mandi Siang agar Tak Masuk Angin
"Saya melihat memang urusan realisasi anggaran ini sangat minim sekali," ujar Jokowi.
"Sekali lagi dari Rp 695 triliun stimulus untuk penanganan Covid-19, baru 20 persen yang terealisiasi, Rp 141 triliun yang terealisasi. Masih kecil sekali," jelasnya.
Dikatakannya bahwa realiasi yang paling banyak adalah yang ditujukkan untuk perlindungan sosial, yakni sebesar 39 persen.
Dengan kondisi tersebut, Jokowi lantas memperingatkan kepada setiap kementerian untuk bisa segera mendistribusikan anggarannya sesuai dengan kebutuhan.
"Penyerapan yang paling gede itu ada di perlindungan sosial 39 persen, kemudian program UMKM 25 persen," katanya.
"Hat-hati ini, yang belum ada DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran) saja masih gede banget, mungkin 40 persen. DIPA aja belum ada gimana mau realisasi," terang Jokowi.
Menurut Jokowi, para kementerian maupun lembaga lagi-lagi masih belum mempunyai aura krisis.
Orang nomor satu di Indonesia itu menganggap bahwa para pembantunya belum begitu paham dengan pekerjaan yang harusnya menjadi prioritas di tengah krisis dan pandemi Covid-19.
Sehingga apa yang dilakukan masih sebatas normal.
• Rangkuman Tiga Pejabat Dinyatakan Positif Covid-19, Miliki Riwayat yang Sama Sempat Jumpa Jokowi
"Artinya apa, di kementerian, di lembaga aura krisisnya betul-betul belum, ya belum," ungkap Jokowi.
"Masih sekali lagi kejebak pada pekerjaan harian. Nggak tahu prioritas yang harus dikerjakan," jelasnya.