TRIBUNWOW.COM - Tatanan hidup baru atau New Normal disebut-sebut sebagai usaha untuk menyelamatkan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.
Namun, Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara tidak berpikiran demikian.
Di acara Indonesia Business Forum tvOne pada Rabu (27/5/2020), Bhima Yudhistira menilai bahwa kinerja yang dikira akan berdampak positif pada ekonomi itu bersifat semu.
• Ali Ngabalin Tegaskan Tak Ada yang Longgar dalam New Normal: 100 Pengunjung Jadi 50 Saja
"Di sisi yang lain kita tidak bisa berbangga dengan adanya kinerja yang sebenarnya positif tapi semu," ujar Bhima.
Bhima mengatakan New Normal justru berdampak buruk pada segi ekspor.
Bhima menduga akan terjadi penurunan pada segi ekspor.
"Karena dari sisi ekspor, ekspor pakaian jadi, ekspor kemudian bahan-bahan olahan, ekspor motor itu sebagian besar mengalami penurunan."
"Nah sehingga kalau ini terus berlanjut maka kualitas dari neraca perdagangan secara statistik dianggap bagus padahal ini merupakan tanda-tanda yang kurang bagus," ungkap Bhima.
• Bahas Wacana Pembukaan Sektor Pariwisata New Normal, Jokowi: Risikonya Besar, Harus Dikalkulasi
Bhima menduga akan ada penurunan tajam pada segi industri manufaktur beberapa bulan ke depan.
"Ini adalah tanda bahwa beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan pada sektor industri manufaktur yang cukup tajam."
"Biasanya kalau impor bahan baku itu mengalami penurunan akibat pemintaan dari industri itu juga terganggu maka tiga sampai lima bulan kemudian akan tercermin dari industri manufaktur," duganya.
Lalu ia mengungkit di mana industri manufaktur saja pada kuartal 2020 sudah dianggapnya buruk.
"Yang kita sudah melihat kuartal pertama industri manufaktur sangat-sangat buruk," katanya.
Lihat videonya mulai menit ke-15:15:
Politikus Partai Gerindra, Sandiaga Uno sempat ditanya apakah Indonesia sudah siap menerapkan New Normal.