TRIBUNWOW.COM - Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira sempat mengajak mantan Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), Belva Devara berdebat soal Kartu Prakerja.
Dilansir TribunWow.com, sebelumnya Belva Devara mengundurkan diri sebagai Stafsus Milenial Jokowi karena dianggap memanfaatkan proyek Kartu Prakerja untuk kepentingan pribadi.
Terkait hal itu, Bhima Yudhistira mengaku hingga kini ajakannya debat itu belum juga mendapat jawaban dari Belva.
Jika Belva berhalangan, ia bahkan menantang stafsus milenial lainnya untuk berdebat dengannya soal Kartu Prakerja.
• 2 Stafsus Mundur, Refly Harun Anggap Belva Devara Gentle tapi Tidak pada Andi Taufan, Ini Alasannya
• Refly Harun Puji Belva Devara Bisa Kuliah di 2 Universitas Ngetop Dunia: Luar Biasa Sesungguhnya
Pernyataan Bhima Yudhistira itu pun memancing reaksi Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun.
Hal tersebut disampaikannya melalui kanal YouTube Refly Harun, Sabtu (23/5/2020).
"Jadi ketika kemudian saya melihat 'Ini kok ada milenial pakai embel-embel stafsus milenial, di sisi lain dia punya konflik kepentingan sama program kartu prakerja'," ucap Bhima.
"Tapi dia kemudian pura-pura enggak tahu."
Bhima mengaku, mengajak debat Belva untuk mengetahui konsep pemikiran stasus milenial Jokowi.
Meskipun begitu, ia menyebut enggan ribut-ribut dan memilih berdebat secara damai jika Belva memenuhi ajakannya.
"Jadi saya coba pengin lihat sebenarnya konsepnya milenial di ring 1 presiden itu seperti apa," jelas Bhima.
"Kemudian kita adu gagasan aja, biasa aja sih."
• Belva Devara dan Andi Taufan Mundur, Jokowi: Sebetulnya Saya Ingin Mereka Tahu soal Pemerintahan
Lebih lanjut, hingga kini Bhima mengaku belum ada tanggapan dari Belva terkait ajakan debatnya itu.
Bahkan, ia turut menantang stafsus Jokowi yang lain untuk berdebat soal Kartu Prakerja.
"Saya udah WA, saya udah bilang ke teman-teman stafsus lainnya, kalau Belva enggak bisa dibantuin lah 7 lawan 1," ujar Bhima.
"Bercandanya begitu ya, tapi enggak dijawab juga. "
Pernyataan Bhima itu pun lantas ditanggapi candaan Refly Harun.
Ia mengatakan, ajakan debat Bhima itu menjadi tantangan bagi Jokowi yang merekrut stafsus milenial.
Tak hanya itu, Refly juga menyebut Jokowi begitu membanggakan ketujuh stafsus milenial itu sejak awal pelantikan.
"Wah ini tantangan Presiden Jokowi ya, membangga-banggakan 7 staf khusus," ucap Refly.
"Ini ada 1 anak muda yang berani dikeroyok 7 orang, kayak pendekar silat ya zaman silat dulu ya."
"Biasanya 7 pendekar itu yang nantangin, tapi ini satu berani nantang yang 7," tandasnya.
• Belva Devara Mundur dari Stafsus, Refly Harun Soroti Ruang Guru: Silakan Lanjutkan Proyeknya
Simak video berikut ini menit ke-3.12:
Mundurnya 2 Stafsus Presiden
Di sisi lain, sebelumnya Presiden BEM UIN Jakarta, Sultan Rivandi memberikan tanggapan terkait mundurnya dua Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu Andi Taufan dan Adamas Belva Devara.
Dilansir TribunWow.com, Sultan Rivandi mengatakan memang sudah sepantasnya mereka mengundurkan diri.
Bahkan menurutnya, tidak hanya mereka berdua yang seharusnya mundur, melainkan seluruh stafsus milenial.
• Blak-blakan Beri Wejangan untuk Stafsus Milenial Presiden, Fahri Hamzah: Korupsi Itu Lifestyle
Sultan menilai perilaku yang ditunjukkan oleh stafsus milenial sudah mencoreng kaum milenial secara umum.
"Kita melihat ada dua staf milenial yang mundur, bahkan saya bilang kalau tujuh-tujuhnya mundur enggak akan memperbaiki nama mereka, bahkan tidak akan bisa memperbaiki generasi milenial," ujar Sultan Rivandi.
Selain itu, dirinya mengatakan bahwa dari dulu seharusnya mereka tidak menerima dijadikan stafsus milenial.
Keberadaan stafsus milenial disebut tidak memberikan dampak apapun kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Sultan, keberadaan mereka justru hanya dijadikan sebagai boneka untuk melindungi pemerintah dari serangan kaum milenial.
"Karena seharunya memang milenial jangan mau dijadikan staf," kata Sultan.
"Kan gini, saya enggak persoalkan prestasi masing-masing, pencapaian pribadi masing-masing, semua saya anggap orang hebat,"
"Tetapi mereka tidak bisa membaca situasinya, ketika mereka diangkat hanya dijadikan boneka kecil di atas bonek lagi dan ada dalang."
• Cegah Meluasnya PHK, Jokowi Berikan Stimulus untuk Perusahaan yang Pertahankan Pekerjanya
Sultan mengakui bahwa mereka tujuh stafsus milenial memang tidak diragukan prestasi dan pencapainya pribadinya.
Namun kesalahan dalam mengambil tindakan justru bisa menghancurkan nama baiknya dan imbasnya pada seluruh generasi milenial.
Selain menyoroti dari para stafsus, dirinya juga menilai bahwa kebijakan Jokowi membentuk stafsus milenial dirasa keputusan yang tidak perlu.
"Jadi hanya dipertontonkan kepada publik, seolang mereka adalah harapan, padahal hanya baut kecil yang enggak ada pengaruhnya sama sekali di atas oligarki kekuasaan," ungkap Sultan.
"Tujuh milineal itu akhirnya akan hancur namanya dan merusak, bukan hanya tujuh orang itu yang rusak namanya, semua generasi milenial dirusak oleh tujuh orang itu."
"Saya pikir mau tujuh-tujunya mundur, memang seharunya tidak dibikin milenial staf presiden, ditambah presiden seharusnya tidak membuat kekonyolan yang terjadi akhir-akhir ini," pungkasnya. (TribunWow.com)