Virus Corona

Soal Mundurnya Stafsus Milenial Jokowi, BEM UIN Jakarta: Mereka Hanya Dijadikan Boneka Kecil

Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta, Sultan Rivandi, saat ditemui di kampus UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (25/9/2019). Dirinya menyebut keberadaan stafsus milenial Presiden hanya dijadikan sebagai boneka.

TRIBUNWOW.COM - Presiden BEM UIN Jakarta, Sultan Rivandi memberikan tanggapan terkait mundurnya dua Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu Andi Taufan dan Adamas Belva Devara.

Dilansir TribunWow.com, Sultan Rivandi mengatakan memang sudah sepantasnya mereka mengundurkan diri.

Bahkan menurutnya, tidak hanya mereka berdua yang seharusnya mundur, melainkan seluruh stafsus milenial.

Presiden Joko Widodo memperkenalkan staf khusus barunya yang berasal dari kalangan milenial Andi Taufan Garuda Putra (kiri), Ayu Kartika Dewi (dua kiri), Adamas Belva Syah Devara (tiga kiri), Billy Gracia Yosaphat Mambrasar (empat kanan), Putri Indahsari Tanjung (tiga kanan), Angkie Yudistia (dua kanan),  Aminuddin Ma'ruf (kanan) di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). (TRIBUN/SENO TRI SULISTIYONO)

Blak-blakan Beri Wejangan untuk Stafsus Milenial Presiden, Fahri Hamzah: Korupsi Itu Lifestyle

Sultan menilai perilaku yang ditunjukkan oleh stafsus milenial sudah mencoreng kaum milenial secara umum.

"Kita melihat ada dua staf milenial yang mundur, bahkan saya bilang kalau tujuh-tujuhnya mundur enggak akan memperbaiki nama mereka, bahkan tidak akan bisa memperbaiki generasi milenial," ujar Sultan Rivandi.

Selain itu, dirinya mengatakan bahwa dari dulu seharusnya mereka tidak menerima dijadikan stafsus milenial.

Keberadaan stafsus milenial disebut tidak memberikan dampak apapun kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Sultan, keberadaan mereka justru hanya dijadikan sebagai boneka untuk melindungi pemerintah dari serangan kaum milenial.

"Karena seharunya memang milenial jangan mau dijadikan staf," kata Sultan.

"Kan gini, saya enggak persoalkan prestasi masing-masing, pencapaian pribadi masing-masing, semua saya anggap orang hebat,"

"Tetapi mereka tidak bisa membaca situasinya, ketika mereka diangkat hanya dijadikan boneka kecil di atas bonek lagi dan ada dalang."

Cegah Meluasnya PHK, Jokowi Berikan Stimulus untuk Perusahaan yang Pertahankan Pekerjanya

Sultan mengakui bahwa mereka tujuh stafsus milenial memang tidak diragukan prestasi dan pencapainya pribadinya.

Namun kesalahan dalam mengambil tindakan justru bisa menghancurkan nama baiknya dan imbasnya pada seluruh generasi milenial.

Selain menyoroti dari para stafsus, dirinya juga menilai bahwa kebijakan Jokowi membentuk stafsus milenial dirasa keputusan yang tidak perlu.

"Jadi hanya dipertontonkan kepada publik, seolang mereka adalah harapan, padahal hanya baut kecil yang enggak ada pengaruhnya sama sekali di atas oligarki kekuasaan," ungkap Sultan.

"Tujuh milineal itu akhirnya akan hancur namanya dan merusak, bukan hanya tujuh orang itu yang rusak namanya, semua generasi milenial dirusak oleh tujuh orang itu."

"Saya pikir mau tujuh-tujunya mundur, memang seharunya tidak dibikin milenial staf presiden, ditambah presiden seharusnya tidak membuat kekonyolan yang terjadi akhir-akhir ini," pungkasnya.

Simak videonya mulai menit ke-33.35

Halaman
123