Virus Corona

Pakar Gugus Tugas Ungkap Ketakutannya pada 2010 soal Penyakit Baru: Mereka Mencari Keseimbangan Baru

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Ananda Putri Octaviani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wiku Adisasmita saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (29/4/2020).

"Jadi kita tidak pernah tahu bahwa tommorow ada suatu penyakit baru ternyata dari publikasi 2004 sampai dengan sekarang, 16 tahun sudah ada empat penyakit baru di dunia."

"Influenza pandemi, kemudian H7N9, kemudian ada Mers-CoV dan sekarang ada Covid-19 itu semua terjadi karena ketidakseimbangan alam," jelas dia.

Ia mengatakan virus itu muncul karena bumi sudah tak lagi seimbang.

"Prinsipnya adalah kalau kita jaga alam maka alam akan jaga kita. Kita sudah lama tak menjaga alam, mereka mencari keseimbangan baru," kata dia.

Pangkas Anggaran Belanja Besar-besaran, DKI Jakarta Sediakan Rp 10,77 Triliun untuk Tangani Covid-19

Wiku menegaskan Virus Corona khususnya sudah berkembang dan semakin kuat.

"Jadi sebagaima makhluk hidup seperti manusia, kalau dia tertekan maka dia akan berusaha melawan. Yang mati banyak, tapi yang enggak mati berbahaya sekali. Begitu juga dengan virus ini."

"Begitu juga dengan virus ini, virus ini sudah berkembang sehingga dia menjadi kuat sekali, dan menyebar manusianya enggak bisa apa-apa," ujar Wiku.

Lihat videonya mulai menit ke-2:17:

Pakar UI Ungkap Kemungkinan Lain Mengapa Virus Corona Cenderung Turun

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dokter Pandu Riyono membenarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berdampak pada penyebaran Virus Corona.

Hal itu diungkapkan dokter Pandu Riyono saat menjadi narasumber dalam acara Metro Pagi Prime Time pada Senin (28/4/2020).

Pandu Riyono mengatakan bahwa PSBB bisa menurunkan penyebaran Virus Corona di Indonesia.

• 52 Lokasi Check Point di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, PSBB Berlaku Hari Ini, Selasa 28 April 2020

Pasalnya, sudah 60 persen orang memilih berada di dalam rumah.

"Saya sepakat kalau PSBBnya mulai meningkat yaitu dari hasil analisis data Google terlihat dari proporsi yang sudah tinggal di rumah kini sudah mencapai 60 persen," kata Pandu,

Namun, ia berharap masyarakat tetap bisa di dalam rumah hingga presentasenya mencapai angka 80 persen.

Halaman
1234