Virus Corona

China Temukan Obat Penangkal Virus Corona, Ternyata di Indonesia Biasa untuk Tangani Penyakit Ini

Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang perawat menyiapkan obat untuk pasien terjangkit virus Corona

TRIBUNWOW.COM - Setelah ribuan orang tumbang akibat wabah virus corona, akhirnya para ahli China menemukan penangkalnya.

Tak disangka, obat penangkal virus corona ini, ternyata sudah sering digunakan di Indonesia.

Para ahli di China menyebut obat untuk virus corona tersebut dengan nama Chloroquine Phosphate.

Sementara itu Chloroquine Phosphate di Indonesia lebih dikenal sebagai obat antimalaria.

Kabar baik tersebut juga disampaikan oleh seorang pejabat di China, pada Senin (17/2/2020) lalu.

Ilustrasi, seorang perawat melayani pasien terinfeksi virus corona (Mirror.co.id)

Proses Evakuasi WNI dari Jepang yang Negatif Virus Corona, Dijemput Kapal Perang Bantu Rumah Sakit

 

Melansir dari Xinhua, menurut Sun Yanrong, wakil kepala Pusat Nasional Nasional Pengembangan Bioteknologi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dalam konferensi pers mengatakan bahwa para ilmuwan "dengan suara bulat" menyarankan bahwa obat tersebut bisa dimasukkan dalam versi berikutnya dari pedoman pengobatan dan diterapkan dalam uji klinis yang lebih luas sesegera mungkin.

Chloroquine Phosphate sendiri rupanya sudah digunakan selama lebih dari 70 tahun.

Sun menambahkan jika obat Chloroquine Phosphate ini sudah dilakukan beberapa skrining uji coba.

Kini obat tersebut telah mengikuti uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di Provinsi Guangdong China Selatan dan Provinsi Hunan di China tengah.

Dan dari uji klinis tersebut obat Chloroquine Phosphate telah menunjukkan kemanjuran yang cukup baik.

Dalam uji coba, kelompok pasien yang telah menggunakan obat sudah menunjukkan indikator yang lebih baik daripada kelompok paralel mereka.

Beberapa tandanya yakni berkurangnya demam, peningkatan gambar pada CT paru-paru, dan persentase pasien yang menjadi negatif dalam tes asam nukleat virus.

"Pasien yang menggunakan obat juga membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk pulih," tambahnya kepada Xinhua.

WHO Sebut Waktu Cegah Perebakan Virus Corona Nyaris Habis, Tedros Adhanom: Kesempatan Semakin Kecil

Sun memberi contoh seorang pasien berusia 54 tahun di Beijing, yang dirawat di rumah sakit empat hari setelah menunjukkan gejala virus corona.

Setelah minum obat selama seminggu, ia melihat semua indikator membaik dan asam nukleat berubah negatif.

Sejauh ini, tidak ada reaksi merugikan serius yang jelas terkait dengan obat telah ditemukan di antara lebih dari 100 pasien yang terdaftar dalam uji klinis, katanya.

UPDATE Korban Virus Corona - Grafik Tunjukkan Cepatnya Penyabaran Virus, Indonesia Hanya Dilewati? (World Pop Project/NZHerald | CDC)

Dirawat 2 Pekan, WNI yang Positif Corona di Singapura Dipastikan Sembuh

Pada tanggal 15 Februari 2020, beberapa departemen termasuk Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Komisi Kesehatan Nasional dan Administrasi Produk Medis Nasional mengadakan konferensi video untuk mendengarkan penelitian obat-obatan dan pendapat para ahli klinis tentang kemanjuran obat pada COVID-19.

Halaman
123