Pemulangan WNI eks ISIS

Politisi PDIP Peringatkan BNPT soal Eks Teroris Masuk BUMN: Teman Saya NKRI Jadi Buruh Saja Susah

Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Politisi PDIP Muchamad Nabil Haroen dalam cara Dua Arah, Senin (10/2/2020)

Terlebih WNI eks ISIS yang kini menempati kamp pengungsian dan tahanan sudah lama tak terpantau pergerakannya oleh pemerintah Indonesia.

"Kita menghindari bom saja sulit, kok terus mau profiling mereka, itu jauh lebih sulit lagi," ujar Gus Nabil.

"Profiling yang mau ngebom saja enggak bisa, kok terus mem-profiling mereka yang selama ini kita enggak pernah pantau, dan tidak mudah mengurusi orang-orang yang sakit otaknya."

"Kalau sudah sakit otaknya berat," tambahnya.

Gus Nabil menegaskan dirinya tidak percaya bahwa pemerintah mampu melakukan profiling terhadap para WNI eks ISIS.

"Tentu kalau memang pemerintah bisa melakukan ini, bisa mem-profiling ya itu bagus, tapi kok saya tidak cukup yakin," tandasnya.

Polemik Kepulangan WNI eks ISIS, Mahfud MD Siapkan Langkah Alternatif untuk Dilaporkan ke Jokowi

Lihat videonya di bawah ini mulai menit ke-28.50:

Korban Teroris: Mengapa Negara Memikirkan Pengkhianat

Korban dari serangan-serangan terorisme angkat bicara soal wacana pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) bekas anggota teroris ISIS yang kini sedang ramai dibicarakan.

Pendamping korban Bom Samarinda Birgaldo Sinaga mengatakan para korban sangat tidak setuju apabila WNI bekas anggota teroris tersebut dipulangkan kembali ke tanah air.

Dikutip TribunWow.com dari video unggahan kanal YouTube Kompastv, Sabtu (8/2/2020), Birgaldo menyebut wacana pemulangan WNI eks ISIS sangat melukai perasaan para keluarga korban terorisme.

"Sangat melukai perasaan keluarga korban terorisme, itu yang ada di benak saya," kata Birgaldo.

Suasana kamp pengungsian bekas anggota ISIS al-Hol, Desember 2019 (Delil Souleiman/AFP)

 

• Sutiyoso Sebut Biarkan Eks ISIS Pulang, Ceritakan Kekesalannya saat Bom Thamrin: Sebenarnya Dongkol

Menurutnya pemerintah tidak seharusnya memikirkan nasib para WNI eks ISIS.

"Saya kira pemerintah memikirkan mereka untuk dipikirkan saja sebuah kekeliruan, sebuah kesalahan," terangnya.

"Bagaimana bisa pemerintah begitu mudah melemparkan isu ini, membuat gaduh, melukai perasaan dari pada korban, Ayah, Ibu, saudara, anak yang kehilangan anggota keluarganya, yang sampai saat ini berjuang untuk pulih."

Halaman
123