Terkini Nasional

Bantah Intervensi Partai Golkar, Presiden Jokowi Tantang Anggota DPD Maju: Saya Beri Sepeda

Penulis: Fransisca Krisdianutami Mawaski
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Jokowi dalam Musyawarah Nasional Golkar X

Presiden juga mengimbau para kader Partai Golkar ini untuk tetap menjaga keutuhan dan situasi yang baik dari Partai Golkar.

"Kalau Golkar panas, perpolitikan nasional ini juga ikut panas," kata presiden.

Ia tak ingin dalam internal Partai Golkar terjadi perpecahan, hal ini dikarenakan akan menggoyang stabilitas politik nasional.

"Yang saya takutkan, kalau Gokar ini pecah jadi partai baru lagi, itu kekhawatiran saya," kata Jokowi.

Sebagai partai besar, Golkar diminta untuk tetap menjaga kesolidannya.

Lihat video selengkapnya:

 

JK Sebut Setya Novanto Biang Rusaknya Citra Golkar: Dia Mengemis, Melobi, Saya Bilang Tak Bisa Urus

Bamsoet Mundur

Bambang Soesatyo memilih untuk mundur dari bursa Ketua Umum Partai Golkar.

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Bamsoet, Andi Sinulingga.

Rupanya tindakan yang dilakukan Bamsoet atas permintaan dari Politisi senior Golkar Luhut Binsar Pandjaitan.

"Diminta Pak Luhut mundur," ujar Andi seperti yang dikutip TribunWow dari laman Kompas.com, Selasa (3/12/2019).

Alasan Luhut untuk meminta Bamsoet mundur adalah untuk menjaga stabilitas perpolitikan nasional.

"Kompetisi hanya akan menimbulkan kegaduhan saja. Karena kalau ada pemilihan caketum, katanya bisa bikin gaduh dan mengganggu perekonomian. Saya dengar kabarnya begitu," kata Bamsoet.

Tak hanya itu, Luhut juga menilai Bamsoet sebagai calon yang potensial sebagai ketua umum Golkar.

Hal tersebut dianggap dapat mengalahkan calon ketua umum lain yang juga potensial, Airlangga Hartanto.

"Karena Pak BS (Bamsoet) yang dianggap paling kuat dan besar kemungkinan bisa mengalahkan AH (Airlangga) jika terjadi voting tertutup sebagaimana layaknya tradisi Munas Golkar," ujar Andi.

Halaman
123