Isu Radikalisme

Soal Kabinet Jokowi yang Bakal Tangkal Radikalisme, Din Syamsuddin: Salah Kaprah

Penulis: Fransisca Krisdianutami Mawaski
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Din Syamsuddin berbicara mengenai tangkal radikalisme

Din Syamsuddin lalu mengungkapkan dirinya didatangi orang-orang, yang menurutnya adalah intel yang mengajaknya berdiskusi.

"Mereka menawarkan program deradikalisasi, yang kedua ingin menghapus kurikulum agama atau menyesuaikan kurikulum agama di pesantren dan madrasah," kata Din Syamsuddin.

"Itu kita tolak," tambahnya.

Menurut Din Syamsuddin, istilah deradikalisasi bukan merupakan cara Indonesia.

"Istilahnya sendiri deradikalisasi, nggak akan mau yang dituduh radikal karena mereka sudah dituduh sebagai objek," ucap Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin berpendapat, umat Islam juga ikut berkontribusi menjaga kestabilan Indonesia saat ini.

"Tapi kalau mereka diganggu, jangankan yang garis keras, yang garis lembut pun akan terusik,"tutur Din Syamsuddin.

"Hal inilah yang menjadi kontraproduktif, maka janganlah di awal pemerintahan Bapak Jokowi periode kedua ini, belum apa-apa main tuduh, main anti."

"Berawal dari suudzon dan semacam itu, apalagi menggunakan kacamata kuda hanya dari kalangan Islam," tambahnya.

Din Syamsuddin menilai hal inilah yang akan mendorong radikalisasi, dan negara tidak akan sanggup menghadapinya.

Ia ingin membantu dalam masalah ini dengan menjernihkan.

"Marilah kita bersama-sama rekonsialisasi nasional itu rekonsialisasi pikiran, jangan sampai rekonsialisasi hanya bagi-bagi jabatan, nggak selesai."

"Dan patokan kita, rujukan kita adalah Pancasila itu sendiri," tambahnya.

Din Syamsuddin bercerita, dirinya sempat dikaitkan dengan isu terorisme.

Hal ini dikarenakan ada sebuah website luar negeri yang mencatut namanya sebagai orang yang terpapar gerakan ISIS.

Halaman
123