Alumni Universitas Indonesia (UI) tersebut mengeluhkan pemerintah yang menutup-nutup ide radikalisme.
"Jadi ngapain ditutup," tegasnya.
Dirinya justru menganjurkan orang-orang untuk berdebat tentang ide tersebut.
"Biarin orang berdebat tentang ide itu," jelasnya.
• Soal Baju Putih hingga Pengumuman Kabinet Lesehan di Tangga, Rocky Gerung: Anak SD Mau Masuk Kelas
Rocky kemudian memberikan contoh apa yang terjadi ketika ada pernyataan 30 persen mahasiwa Indonesia terpapar radikalisme.
"Kalau dibilang 30 persen dari mahasiswa indonesia terpapar radikalisme, Universitas Indonesia (UI) misalnya mahasiswa 10 ribu, berarti setiap hari ada 3.000 orang bawa pisau gitu? Bawa molotov ke kampus," tambahnya.
Ia menyarankan untuk menanggulangi semakin besarnya radikalisme, justru radikalisme tersebut harus dibuka di kampus untuk diperdebatkan.
"Supaya dia nggak lebih besar buka kampus supaya terjadi perdebatan argumentatif," jelasnya.
Pria kelahiran 1959 tersebut mengatakan dirinya ingin membantu pemerintah dalam menanggulangi radikalisme.
"Saya mau bantu sebenarnya," katanya.
Alih-alih disetujui oleh pemerintah, Rocky mengatakan dirinya justru dianggap sebagai provokator.
"Tapi dianggap saya memprovokasi," tambahnya.
Dirinya mengakui ia memang datang ke kampus untuk memprovokasi, namun memprovokasi pikiran mahasiswa.
"Saya bilang memang, saya datang ke kampus untuk memprovokasi pikiran," tegasnya.
Video dapat dilihat mulai menit 3.30