Buzzer Medsos

Sebut Prestasi Pemerintah Buruk, Dahnil Anzar: Kalau Baik, Masyarakat Pasti Sukarela Jadi Buzzer

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan Buzzer muncul karena pemerintah atau para politisi miskin prestasi.

TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan pemerintah dan politisi tidak memerlukan buzzer jika memiliki prestasi yang baik.

Dahnil Anzar mengungkapkan, masyarakat lah yang akan menjadi buzzer sukarela jika pemerintah dan politisi memiliki prestasi yang baik.

Hal itu disampaikan Dahnil Anzar saat menjadi narasumber di acara 'Indonesia Lawyers Club (ILC)', Selasa (8/10/2019).

Jubir Partai Gerindra, Dahnil Anzar Simanjuntak (Tangkapan Layar YouTube Indonesia Lawyers Club)

Haikal Hassan Geram dengan buzzer karena Dianggap Sering Serang 212: Anies Baswedan Salah Apa?

Beberkan Adanya Penelitian soal buzzer, Budi Setyarso Sebut Semua Ada Industrinya

Dahnil Anzar mulanya menyoroti tentang hasil penelitian Oxford University menunjukkan bahwa pola tingkah laku buzzer di media sosial menunjukkan adanya kecenderungan menjatuhkan oposisi.

Menurutnya, hal itu dapat menghilangkan hak asasi manusia untuk menyampaikan pendapat atau kritik.

"Biasanya di sosial media semua yang disampaikan data para kritisi atau data para pengkritik 'Ini hoaks', atau 'Ini ujung-ujungnya radikal, ujung-ujungnya ini pro HTI'," ucap Dahnil Anzar.

Ia menilai hal tersebut dapat menekan hak asasi manusia untuk menyampaikan kritik.

"Ujung-ujungnya ya stigmanya itu-itu saja, itu pertama, menekan hak asasi manusia yang paling dasar," kata Dahnil Anzar.

Selain itu, Dahnil Anzar juga menilai saat ini buzzer cenderung menyerang para oposisi.

"Itu disebutkan dalam penelitian Oxford, kemudian mendiskreditkan lawan politik dalam hal ini oposisi," ujar Dahnil.

"Jadi spesifik disebutkan 89 persen kecenderungannya adalah mendeskriditkan oposisi."

Namun berdasarkan hasil penelitian itu, Dahnil Anzar menyatakan buzzer yang memiliki pola tingkah laku seperti itu tak hanya terjadi di Indonesia.

"Jadi dibaca baik-baik dan itu dilakukan di 70 negara, dan yang menggembirakan itu tidak hanya dilakukan di Indonesia kira-kira begitu," kata Dahnil.

"Ada di 70 negara punya tren yang sama jadi mendiskreditkan lawan politik atau oposisi."

Lebih lanjut Dahnil Anzar menilai, buzzer juga cenderung menenggelamkan pendapat para oposisi.

Halaman
123