"Oh ya buah pikiran saya sendiri, opini sendiri, dan saya bisa mempertanggungjawabkan opini itu," jawab Eko.
Menanggapi hal itu, Kawendra lantas menyinggung pertemuannya dengan Eko.
"Saya ketemu lagi dengan Mas Eko Kuntadhi, yang katanya ajudannya 'Kakak Pembina'," ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti yang lain.
"Mudah-mudahan penelitian Oxford salah, dan tidak ada dana yang mengalir ke Mas Eko ya."
"Di Gerindra, saya sudah jelaskan beberapa kali, kita 'miris' kalau mendengar kata buzzer."
"Karena seperti tadi yang Mas Eko katakan, bahwa buzzer itu enggak paham apa yang dia posting, apa yang direshare."
"Naikkan dong levelnya jadi influencer atau bahkan ambassador, jadi dia paham konteks yang akan dia posting, jadi dia mengerti, tidak asal," ungkapnya.
Kawendra kemudian menjelaskan bahwa ketika Pilpres 2019, pihaknya sama sekali tidak menggunakan istilah buzzer atau memakai mereka.
• Blak-blakan, Arief Poyuono Tak Bantah Gerindra Minta 3 Jatah Kursi Menteri Jokowi: Ya Iya dong
"Kita mengenal dengan istilah 'social media fighter', relawan kami berjuang dengan ikhlas membantu gagasan kami tanpa ada yang memberikan kontribusi kepada mereka."
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki uang untuk membayar buzzer.
"Boro-boro membayar buzzer, untuk kampanye saja kemarin kita terbatas," katanya.
Sementara itu, berikut data hasil riset Oxford pada tahun 2018 dan dipublish tahun 2019 yang sempat disinggung oleh Kawendra.
Data Hasil Riset Oxord
Media sosial yang paling banyak digunakan buzzer: