Kabar Tokoh

Prabowo Nyatakan Maaf pada Bibit Waluyo dalam Deklarasinya hingga Buat Penonton Tertawa Riuh

Penulis: Atri Wahyu Mukti
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Prabowo Subianto di depan para purnawirawan TNI-Polri di Grand Pasific Hall Yogyakarta.

TRIBUNWOW.COM - Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menyatakan permintaan maafnya kepada Mantan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo.

Hal itu disampaikannya dalam deklarasi di depan para purnawirawan TNI-Polri di Grand Pasific Hall Yogyakarta, seperti yang diunggah melalui channel YouTube GerindraTV, Jumat (1/3/2019).

Mulanya Prabowo mengungkapkan terdapat masalah kebangsaan saat ini, satu di antaranya yakni kelemahan pemerintahan.

Prabowo Minta Maaf ke Bibit Waluyo saat Bertemu di Yogya: Saya Minta Maaf Pak, Saya Malu

Ia juga mengatakan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang ia cari-cari, namun harus diselesaikan bersama.

Satu diantara kelemahan pemerintahan yakni memberi gaji kepada pejabat yang terbilang sedikit.

"Kita mengerti bahwa hal ini harus diselesaikan," papar Prabowo.

"Apa yang saya maksud, gaji-gaji pejabat terlalu kecil," sambungnya.

Terkait hal itu, lantas Ketua Umum Pratai Gerindra itu mencontohkan seorang pejabat dari Jawa Tengah, yaitu Bibit Waluyo.

Di Hadapan Ratusan Dokter, Prabowo: Kalau Saudara Tidak Memilih Saya, Saya Hormati

Diketahui Bibit Waluyo sempat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah pada tahun 2008-2013 lalu.

"Pak Bibit pernah jadi Gubernur Jawa Tengah, gajinya Rp 8 juta, pensiunnya Rp 1,8 juta," papar Prabowo dengan nada tegas.

"Kebetulan, Pak Bibit ini tipe orangnya tidak mau korupsi," sambungnya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan riuh oleh para penonton dalam deklarasi tersebut.

Di depan khalayak itu, kemudian Prabowo menyatakan ingin menyatakan permohonan maafnya kepada Bibit.

"Pada saat itu Pak Bibit Waluyo mau mengajukan diri sebagai gubernur, kemudian Partai Gerindra punya kursi, ya tentunya saya perlu belajar politik waktu itu, saya belum mengerti politik," kata Prabowo.

"Tapi dulu diajarkannya perang, enggak taunya politik lebih sulit dari perang," sambungnya.

Halaman
12