Mereka yang berkecimpung di dunia desain paham betul bahwa satu logo bisa memiliki banyak interpretasi begitu logo ini dilempar ke ruang publik.
Kadang tafsir yang muncul sama sekali di luar yang diperkirakan para perancang.
• Gandeng Atlet Kontroversial untuk Peringati 30 Tahun Logo Just Do It, Nike Tuai Kecaman
'Pemuja setan'
Procter and Gamble, perusahaan Amerika Serikat yang banyak membuat produk kesehatan dan perawatan pribadi, pada 1980-an menghadapi tuduhan "berhubungan dengan sekte pemuja setan".
Tuduhan ini terkait dengan logo perusahaan yang dipakai sejak 1851 yang menggambarkan laki-laki berjenggot dan 13 bintang.
Rumor menyebutkan bahwa desain ini "melambangkan setan dan bahwa Procter and Gamble menyisihkan keuntungan untuk secara diam-diam diberikan kepada sekte pemuja setan".
Sebagian orang melihat "laki-laki tua ini memiliki tanduk dan bahwa bintang-bintang melambangkan 666 kombinasi rahasia, angka yang biasanya diasosiasikan dengan setan".
Procter and Gamble mengubah logo pada 1991.
Mereka juga menang gugatan terhadap perusahaan pesaing Amway karena pengadilan menyatakan sebagian rumor tersebut dihembuskan oleh Amway.
Hakim memerintahkan Amway membayar ganti rugi US$19 juta kepada Procter and Gamble.
• Usai Kontroversi Boikot Penunjukan Colin Kaepernick, Omset Penjualan Nike Justru Naik Drastis
Plagiarisme
Kasus logo yang juga menarik perhatian global adalah logo Olimpiade 2020 di Tokyo.
Pada 2015 panitia pelaksana Olimpiade Tokyo 2020 dipaksa mengubah desain setelah muncul tuduhan logonya mirip dengan Theatre De Liege di Belgia.
Perancang Belgia, Olivier Debie, membawa kasus ini ke pengadilan dengan mengklaim bahwa desain logo yang ia rancang pada 2013 "dijiplak oleh perancang Jepang Kenjiro Sano".
Tuduhan ini ditolak baik oleh Kenjiro maupun panitia pelaksana Olimpiade 2020.
Tapi logo Olimpiade 2020 akhirnya diganti dengan rancangan karya Asao Tokolo.
(BBC Indonesia)