Celakanya, para pengusaha Turki harus mengembalikan pinjaman mereka dalam lira yang nilainya terus merosot.
Apalagi, sebagian besar utang itu dibuat di saat nilai satu lira Turki setara dengan dua dolar AS.
Sehingga, dengan nilai tukar saat ini, nilai utang Turki meningkat tiga kali lipat.
• Berpesan pada Teddy Gusnaidi, Gerindra: Lebih Baik Kampanyekan Saja Partai Anda
Sebagian pinjaman itu didanai sejumlah bank Turki yang meminjam dolar atau euro dari bank lain dalam skema pasar antar-bank jangka pendek dan meminjamkan uang itu kepada nasabah mereka.
Jika bank-bank Turki tidak bisa mengatasi masalah ini, maka sistem perbankan negeri itu akan kolaps.
Namun, kemungkinan kolapsnya perbankan Turki tidak akan terjadi sebab bank BBVA Spanyol kini menjadi pemilik bank terbesar Turki, Garanti.
Kali terakhir masalah nilai tukar liar menimpa Turki adalah pada 2001, ketika negeri itu berpaling kepada IMF untuk meminjam uang dan menerima syarat penghematan yang amat ketat agar mendapatkan dana talangan.
Nampaknya Erdogan tidak akan meminta bantuan IMF.
• Balas Cuitan Andi Arief soal Isu Mahar, Dahnil Anzar: Harusnya Dimasukkan ke Ranah Hukum
Dalam pidatonya akhir pekan lalu Erdogan mengatakan Turki sedang menjajaki kemungkinan dengan China, Rusia, dan Iran.
Bahkan, sebelumnya, Erdogan mengatakan, Turki akan menerbitkan surat utang "panda bond" di pasar keuangan lokal China.
"Panda bond" adalah surat utang dengan mata uang yuan untuk penerbit surat utang non-China tetapi dijual di China.
Rencana ini bisa amat menguntungkan China jika merujuk wawancara stasiun televisi China CGTN dengan pakar ekonomi Turki, Emre Alkin.
"Stabilitas lira Turki akan dihasilkan dari kerja sama dengan negara-negara penting seperti China. Amat tidak mungkin bank sentral (Turki) melakukan sesuatu sendiri, kami membutuhkan sumber daya," ujar Alkin.
"Jika sumber daya ini datang dari China, tidak masalah, yang terpenting adalah bagaimana kami menggunakan sumber daya ini. Sungguh nyata kami membutuhkan nasihat, ide, dan saran dari negara seperti China," tambah dia.
• Sri Mulyani Angkat Bicara soal Pemberitaan Dirinya yang akan Menjual Daerah Bali demi Utang Negara
Kini, Turki harus menjual sejumlah aset terpenting negeri itu.