Breaking News:

Perang Israel Vs Hamas

Kesaksian Miris Tenaga Medis RS Al-Shifa: Dikepung Israel & Dengarkan Isak Tangis Anak Palestina

Cerita mencekam dari tenaga medis RS Al-Shifa saat pengepungan yang dilakukan oleh tentara Israel.

Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
Aljazeera.com
Jawdat Sami al-Madhoun saat menceritakan kisah mencekamnya ketika tentara Israel mengepung RS Al-Shifa di Kota Gaza. 

Pada Rabu lalu, pasukan Israel mengklaim telah menggerebek adanya pusat komando pejuang Hamas di dalam RS.

Namun, klaim yang dilakukan Israel hingga saat ini belum juga dapat dibuktikan.

Imbas pengepungan itu, RS Al-Shifa kehilangan pasokan listrik sejak Sabtu lalu.

Bahkan, segala aktivitas dihentikan karena peralatan medis yang tak bisa difungsikan karena tak adanya pasokan listrik.

Hal itu membuat inkubator berisi 39 bayi prematur juga berhenti.

Sejak itu, total sudah ada tujuh bayi meninggal dunia.

Jumlah korban terus bertambah karena rumah sakit masih belum bisa beroperasi atau ditutup.

Lebih lanjut, setidaknya sudah 179 mayat yang sudah dikuburkan di halaman rumah sakit.

Di sisi lain, Jawdat kembali bersaksi terkait kejinya penembak jitu Israel yang bakal menargetkan siapa pun yang bergerak.

Jawdat Sami al-Madhoun 453
Jawdat Sami al-Madhoun saat menceritakan kisah mencekamnya ketika tentara Israel mengepung RS Al-Shifa di Kota Gaza.

Baca juga: Fakta Viral Oknum Satpam di Bekasi Larang Pengendara Pasang Bendera Palestina, Kini Dinonaktifkan

Ia juga menceritakan kesaksiannya setelah mendengarkan nasib pilu gadis berusia 13 tahun yang ditinggal kedua orang tua dan saudara laki-lakinya.

Bahkan, dirinya putus asa dan menginginkan untuk turut meninggal saja menyusul orang tua dan saudara laki-lakinya.

“Saya adalah seorang sukarelawan,” katanya.

 “Saya akan menerima orang-orang, melakukan triase pada beberapa kasus, dan membalut siapa pun yang dapat saya bantu. Saya bukan perawat terlatih, tapi saya mempelajarinya selama sekitar satu setengah tahun, jadi saya ingin melakukan sesuatu, apa saja, untuk membantu.

“Suatu hari, empat gadis kecil yang cantik datang, yang tertua berusia sekitar 13 tahun, hanya satu dari mereka yang terluka… mereka datang bersama keluarga mereka yang telah meninggal, ayah, ibu, saudara laki-laki, kami melakukan apa yang harus kami lakukan dan menguburkan mereka. ,” Jawdat berhenti lagi, menundukkan kepala dan terisak.

“Gadis kecil yang terluka itu menatapku dan berkata: 'Tolong, Paman, biarkan aku mati bersama mereka. Saya tidak tahu bagaimana saya akan hidup tanpa orang tua dan saudara laki-laki saya," jelas Jawdat.

Halaman
123
Tags:
PalestinaIsraelPerang Israel Vs HamasHamas
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved