Ponpes Al Zaytun dan Ajarannya
Terkuak, Ini Alasan Pria dan Wanita Salat 1 Saf di Al Zaytun, Panji Gumilang: Itu Hak Asasi
Panji Gumilang kembali mengungkap pengakuan kontroversial mengenai alasan wanita dan pria salat satu saf di Ponpes Al Zaytun.
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Panji Gumilang, sesumbar ingin mengangkat harkat dan martabat wanita.
Hal itu diungkapkannya ketika membahas alasan jemaah pria dan wanita salat dalam saf yang sama.
Dilansir TribunWow.com, Panji Gumilang dan Ponpes Al Zaytun kini tengah menuai kontroversi karena diduga telah melakukan penistaan agama.
Baru-baru ini, beredar video mengenai cara beribadah Panji Gumilang dan pengikutnya yang dianggap nyeleneh.
Baca juga: Ponpes Al Zaytun Sempat Viral Salat Id Nyeleneh, Kini Makin Banyak Wanita yang Sejajar Saf Pria
Baca juga: Kata MUI seusai Disentil Panji Gumilang, Pentolan Al Zaytun Kesal Disebut Sesat dan Tolak Tabayyun
Dalam acara Kick Andy Metro TV, Rabu (28/6/2023), Panji Gumilang pun membeberkan sederet alasan mengajarkan pria dan wanita salat dalam satu saf.
Padahal dalam ajaran Islam, pria salat di saf depan, sedangkan wanita berada di saf belakang.
Pria 76 tahun itu sesumbar ingin menyamakan kedudukan pria dan wanita dalam salat.
"Kemudian kalau hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan salat kemudian ada wanita, saya mengedepankan fikih sosial," ungkapnya, dikutip dari kanal YouTube " rel="nofollow">METRO TV, Rabu (28/6/2023).
"Mengangkat harkat martabat wanita yang selama ini terpinggirkan."
"Baru dimulai dalam politik, itu pun baru 30 persen."
"Sedangkan dalam pemahaman saya berdasarkan Al-Quran, sama, tidak pernah dikesampingkan, sejajar," sambungnya.

Baca juga: Pernah Diundang Panji Gumilang, Amien Rais Bongkar Al Zaytun Produk Orde Baru: Sponsornya Sama
Baca juga: Status Tanah Jadi Polemik, MUI Ungkap Temuan Baru soal Dugaan Pidana Ponpes Al Zaytun: Ada Sesuatu
Panji Gumilang pun tak terima ketika dicap sesat oleh banyak pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ia menyebut perbedaan dalam cara beribadah bukanlah suatu masalah.
"Kalau soal itu saja lantas sesat, menyesatkan, bagaimana dunia?
"Itu hak asasi manusia untuk menjalankan ibadah menurut keyakinannya, dasar kami Al-Quran." katanya.